Seratus Milyar, Untuk Sebuah "Ketololan"

"Apa pun yang dicelup dalam warna biru akan menjadi biru. Apa pun yang dicelup dalam warna kuning akan menjadi kuning. Setelah diberi pewarna beberapa kali, warna yang asli dari sutra tidak dapat dikenali lagi. Ini adalah benar bukan hanya untuk sutra, tetapi juga pada orang atau negara. Seseorang dapat dipengaruhi oleh teman-temannya. Sebuah negara dapat berubah oleh pengaruh disekitarnya."
Komentar di atas diucapkan oleh seorang filsuf terkenal, Mo Zi, jauh 400-an tahun sebelum masehi. Kalimat bijak di atas kembali menjadi penting ketika kita hadir dalam era yang penuh kekacauan berpikir seperti sekarang ini.

Beberapa waktu yang lalu, saya diundang minum kopi bersama oleh seorang teman yang baru pulang studi banding ke luar negeri. Dia mewakili salah satu fraksi di DPR, tidak enak untuk menceritakan nama partainya di sini. Ketika kami sampai pada pembicaraan - "apa yang menjadi keperluan bangsa ini sehingga harus membuat studi banding ke luar negeri?" Teman saya ini menjawab, "Studi banding adalah untuk peningkatan mutu, memperbaiki sistem, atau melakukan perluasan usaha, dan lain-lain dengan mengunjungi satu atau lebih objek tertentu, dan membandingkan kondisinya dengan yang ada di tempat kita. Hasil dari kunjungan berupa data dan informasi, menjadi bahan acuan bagi kita saat harus merumuskan konsep yang lebih baik untuk di terapkan di tempat kita. Hasil lainnya bagi kita adalah adanya perubahan yang lebih positif, baik dalam tataran knowledge (pengetahuan), frame of mind (keadaan pikiran, atau mental), dan behavior (perilaku)." Dia menjelaskannya dengan sangat bersemangat.

Apa benar? Tampaknya teman saya ini sudah ikut terjebak untuk mempercayai apa yang dia baca dari buku-buku, tetapi gagal untuk menangkap apa yang dia lihat dalam kehidupan nyata. Dia dan teman-temannya berpikir bahwa sesuatu yang hebat hanya ada di luar sana, dan tidak dapat menerima bahwa ada sesuatu yang hebat disekitarnya, di negeri ini. Mungkin saja dia telah bertemu dengan orang-orang hebat di negara asing, tetapi dia tidak mengenali orang-orang hebat di tengah-tengah teman-temannya sendiri. Bahkan mungkin dia telah mengejek mereka.

Alkisah, Raja Yu yang pernah memerintah dalam sejarah China, kehilangan negaranya karena dia tidak serius mendengarkan nasehat bijak dari temannya yang sangat dekat, yaitu konfusius. Pada era Konfusius, Yu tidak pernah mau menganggapnya dan memandang remeh pemikiran-pemikiran Konfusius.

Sebelum menutup catatan ini, ada sebuah cerita dari teman yang lain: Ketika beberapa orang dari warga negara Arab Saudi, Jepang, dan Indonesia bersama dalam satu bus yang melintasi gurun, bus tiba tiba mati, kemudian warga negara Arab Saudi bermusyawarah, mereka memutuskan untuk mengumpulkan uang dan memesan bus baru. Warga negara Jepang bermusyawarah, mereka mencari kalau-kalau diantara mereka ada yang engineer dan sepakat untuk memperbaiki bus. Warga Negara Indonesia juga bermusyawarah. hasilnya warga negara Indonesia membuat kepanitiaan studi banding cara menangani masalah kerusakan bus di tengah gurun.

Ho hou ... jangan menganggap cerita teman yang terakhir ini serius. Ini saya tulis agar kita tidak mendapat sakit kepala dari memikirkan banyaknya studi banding teman-teman kita di DPR sana.

Mari kita akhiri saja, sebab kita juga khawatir ketololan berpikir mereka berpindah kepada kita. Ketololan yang telah memberi "kehidupan" kepada mereka. Sebab untuk melanjutkan kehidupannya, pada tahun 2011 ini, teman-teman kita yang di DPR telah mengalokasikan Rp 105,924 milyar lebih untuk anggaran studi banding ke luar negeri. [Afrizal Akmal]



3 komentar:

  1. Tolol..??
    saya melihat kegiatan studi "pesiar" anggota dewan itu hanyalah utk menutupi anggaran kampanye sewaktu mereka mencalonkan diri jadi anggota dewan...
    belum lagi dengan kapasitas "odong2" dari anggota dewan membuat kita harus mengelus dada..dan mereka bersaing dengan eksekutive dalam hal mengambur2kan uang rakyat tersebut.

    BalasHapus
  2. Benar Ven, Rakyat kita telah membayar mahal atas kegala tingkah polah Dewan Yang Terhormat....

    BalasHapus
  3. Wajar kalau mereka ingin liburan dngan dalih studi banding, toh mereka juga pengen ngelit negara org itu seperti apa :D
    mumpung punya kekuasaan ya dimanfaatin aja :D

    BalasHapus