Perubahan Perilaku Di Kota Kolonisasi

Ada sebuah kota kecil di Aceh, yang pernah menjadi harapan sukses program transmigrasi semasa pemerintahan rezim Soeharto, yaitu “Saree”, kawasan berhutan yang menjadi basis rekayasa kolonisasi,
tujuannya adalah memindahkan warga miskin dari jawa yang berpenduduk padat menuju daerah yang belum banyak penduduk. Rekayasa ini didukung oleh berbagai lembaga pembangunan internasional yang licik. Pada masa itu, Soeharto menjalankan program ini untuk meminimalisasi kemungkinan pemberontakan anti pemerintah yang mungkin saja dipicu oleh kepayahan hidup kaum miskin di Jawa.

Kawasan ini, sekarang telah diidentifikasi berpotensi untuk dibangun pembangkit listrik panas bumi, geothermal. Sumbernya berasal dari gunung Seulawah Agam. Survei awal yang dilakukan oleh Badan Geologi Bandung dari Departemen ESDM, menyimpulkan bahwa panas bumi Seulawah Agam menyimpan potensi sebesar empat puluh hingga lima puluh lima megawatt. Eksplorasi geothermal dilakukan atas kerjasama, dengan pemerintah Jerman, yang memberikan bantuan dana dalam bentuk hibah kepada pemerintah Aceh sebesar tujuh juta Euro. Selain dana hibah tersebut, Jerman juga sudah sepakat memberi pinjaman lunak sebesar lima puluh enam juta Euro  untuk kegiatan eksploitasi energi panas bumi itu.

Dalam sebuah kesempatan, Aku dan rombongan menyusuri desa-desa sekitar. Jalan mulai menanjak saat menuju arah pegunungan, kami menjadi hati-hati, sekelompok kera ekor panjang bergerak riuh di atas dahan pepohonan, menoleh dan menatap kami.

Kami berpapasan dengan beberapa mahasiswa pendaki gunung. Dalam perjalanan itu, kami juga bertemu dengan seseorang yang tampak seperti warga setempat, sedang menjinjing jerigen berisi bensin. Aku mulai curiga dan berpendapat, bensin itu mungkin digunakan untuk motor chainsow para penebang liar.

Selanjutnya, saat kembali ke desa, kami menanyakan pendapat warga tentang sumber daya lokal dan bagaimana sikap warga seandainya di wilayah itu dibangun sebuah pembangkit listrik. Saat aku tanyakan apakah kera-kera itu menimbulkan masalah, salah satu warga menjawab, “tidak. Kera-kera itu pergi ke jalanan pada siang hari, para pengendara di jalan memberi mereka makanan yang cukup. Kelompok kera itu kembali pada malam hari.” Ia meletakkan cangkulnya. “Mirip sekali dengan polisi-polisi nakal di jalanan sana,” katanya dengan nada sentilan. Aku sering mendengar sentilan ini, serupa tapi tak sama.

Sekarang aku mulai memahami, meskipun banyak polisi-polisi nakal dijalanan sana tidak paham bahwa perilaku mereka dibangun atas kebencian orang lain. Jutaan orang di negeri ini mungkin memberi mereka rapor merah.

Sementara itu para pengendara di jalan, tanpa sengaja telah berperilaku buruk dengan memanjakan kera-kera itu, perubahan perilaku satwa ini telah menghalangi proses penyebaran alami benih-benih pohon muda yang seharusnya tumbuh dari kotoran kera setelah memakan buah-buahan dan biji-bijian di hutan. Kini, “kotoran kera tidak lagi menumbuhkan pohon, sebab para pengendara di jalan memberinya roti.”

0 komentar:

Posting Komentar