Yang Terlewatkan

Apa yang ku saksikan di negeri ini? Aku hampir tidak percaya ketika orang-orang terpelajar yang bekerja di instansi teknis membuat saluran-saluran besar air, sehingga air hujan langsung terbuang ke laut, yang menjadikan cadangan air dalam tanah menjadi kering. Sementara jutaan hektar lahan telah kritis dan terlantar.

Disisi lain, generasi muda petani juga telah kehilangan minat untuk menjadi petani disebabkan kehidupan sebagian besar petani kita saat ini dalam keadaan yang miskin. Hanya petani-petani usia lanjut dan tidak produktif yang masih menekuti pekerjaannya sebagai petani, itu pun sebagai buruh tani dengan kepemilikan lahan rata-rata dibawah seperempat hektar di sawah-sawah yang semakin miskin hara akibat pemakaian pupuk kimia.

Saat berbicara dengan buruh-buruh bangunan di kota, seorang dari mereka menjelaskan dengan ringkas bahwa pekerjaan ini sangat mirip dengan mesin pemeras keringat. Sejak usia delapan belas tahun dia berhenti membantu orangtuanya dari membajak sawah di desa dan pergi ke kota mencari pekerjaan baru, tetapi disini mereka memperoleh upah yang sama buruknya dengan upah bertani di desa.

Aku bertanya apa yang membuat mereka mampu melakukan itu? Aku memperoleh penjelasan-penjelasan yang mencengangkan. Kemiskinan dan penderitaan. Aku rasa, mereka sengsara demi sebuah harga mahal kehidupan banyak orang di kota yang tak bisa berterika kasih. Praktik-praktik perburuhan semacam ini luput dari iklan provit kotanya yang tengah berdagang wisata. 

Para mantan petani yang sekarang menjadi buruh bangunan itu telah menjalani hidup getir, setidaknya berusaha bertahan untuk terus hidup, yang tak bisa dibayangkan kebanyakan orang. Tetapi masyarakat elitnya, menikmati kehidupan yang berbeda.

Aku kembali tak percaya, betapa parahnya situasi ini. Situasi yang kebanyakan orang tidak mempedulikannya. Sebuah konsekuensi?

0 komentar:

Posting Komentar