Mengusap Kejenuhan

Sebuah gerakan mengusik pandanganku, seorang gadis belia di emperan supermarket mengusir lalat yang lahap melalap luka kakinya, dihapusnya luka dengan ujung baju. Wajahnya tertutup debu. Tak ada senyum disana. Aku mengikuti arah matanya. Mataku mulai lembam memahami nasibnya. Aku mengangkat pandangan. Merek supermarket tepat menempel di bangunan tinggi, terdapat tulisan Pante Pirak. Sebuah becak berjok setengah miring perlahan mendekati supermarket, tampak ganjil diantara mobil-mobil pengunjung.

Siang itu Kutardja panas dan gerah. Saat kaki berbalik arah di lintasan depan supermarket, aku hampir tertabrak sepeda motor yang melaju kencang. Sekarang perhatianku beralih kesisi penarik becak yang sedang berjuang susah payah untuk mencari pelanggan, mengejar setoran dan sisanya untuk makan.

Di jalan sana, arus lalu lintas mobil dan  motor menyalakkan klakson. Asap kenalpot membuat mual. Lambungku mulai merasakan akibatnya. Keadaan ini benar-benar mempengaruhiku. Aku bertanya-tanya apakah kota ini sudah tercerabut dari moral nenek moyangnya? Bagaimana mungkin orang-orang yang hidup lebih makmur, yang bekerja di institusi-institusi formal negara tega menjarah "kesejahteraan" gadis belia di emperan itu.

Siapakah yang telah merampok kalangan papa dan menyerahkan hasil rampokan kepada kalangan kaya - dari situasi ini? Siapakah yang telah mendapatkan komisi dari semua ini? Bagaimana mereka tega melakukannya? Bagaimana para pejabat di institusi-institusi negara dan orang-orang yang ada dibalik proyek megah kota ini mampu menjalani hidup?

Siapakah yang telah berpandangan bahwa kelas merekalah yang paling pantas menikmati fasilitas hidup, sementara kelas rendahan dicap pemalas dan pantas merasakan kesengsaraan dalam bentuk apa pun. Kelas rendah dan pemalas tak perlu diberi tempat, mereka tak perlu diberikan listrik dan air lading.

Beberapa ribu rupiah aku serahkan untuk pengemudi becak dan memintanya mengantarku pulang. Gadis-gadis kampus yang duduk santai di kursi burger di pinggir trotoar Jalan T. Nyak Arief sedikit menyegarkan mataku, mempesona dan menjadi pengingat bahwa kota ini adalah kota pelajar.

Ditanganku, halaman koran Serambi Indonesia memberitakan, "Penggelapan uang pajak tidak hanya marak terjadi di Jakarta, seperti yang dilakukan Gayus Tambunan dan Bahasyim Asrafi.”  Praktek menilap duit pajak juga berlangsung di kota ini. Dua triliun rupiah telah ditilep dalam lima tahun terakhir. Modusnya, dana pajak yang dipotong oleh bendaharawan daerah diendapkan dalam rekening pribadi dan tidak disetor ke kas negara.

Waktu terus bergulir, disini aku merasa bodoh. Gadis belia di emperan, mimpinya singgah di langit. Lukanya disimpan dihati sambil mengusap kejenuhan.

Afrizal Akmal


3 komentar:

  1. speechless..merasa sangat tertampar dengan tulisan ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mira. Terima kasih atas apresiasinya. Ini adalah sebuah analitik dinamika yang sedang berlagsung di kota yang lupa kita rumuskan seperti apa bentuknya.

      Hapus
  2. Sebuah artikel yang menyedihkan. Kalau analisisnya diulang 5 tahun kemudian apakah masih sama hasilnya?

    BalasHapus