Hutan Kami Kembali Dijarah

Di negeri yang kerap dilanda bencana alam, rombongan kami yang terdiri dari beberapa orang berkunjung ke kediaman seorang penguasa negeri. Beberapa pejabat mempermainkan kami, mereka menyuruh kami untuk melalui pintu belakang yang sempit. Aku berpendapat, “kami seperti sedang mengunjungi ketua penyamun,
itu sebabnya kami tidak dibolehkan terang-terangan memasuki pintu masuk yang ada di depan.” Setelah menolak dengan keras, barulah kami dibolehkan untuk masuk melalui pintu depan.
Di dalam kediaman sudah ada jamuan makan siang, seseorang yang kelihatan ramah menyalami kami satu persatu dan mempersilahkan mencicipi makanan yang ada. Orang itu yang kemudian kami ketahui sebagai penguasa yang sedang memerintah negeri ini. Wajahnya pas-pasan dengan postur tubuh yang tidak tinggi.

Selanjutnya kami berpindah ruangan dan masuk kedalam inti pembicaraan. Seorang teman diantara kami mengeluarkan peta dan beberapa dokumen penting berkaitan dengan bencana alam yang selama ini kerap terjadi di daerah kami. Dalam pertemuan singkat itu, penguasa itu sepakat untuk menindaklanjuti persoalan ini dan segera menerbitkan surat instruksi kepada seluruh jajaran pejabat yang ada dibawah kewenangannya. Para menteri dan beberapa tamu dari negara asing pun ikut di undang menyaksikan pendeklarasian instruksi ini. Inti dari instruksinya adalah menghentikan sementara seluruh penebangan hutan alam yang ada di negeri ini, memerintahkan prajurit-prajurit untuk menangkap dan menghukum setiap pelaku perusak hutan dan merekrut lebih banyak lagi polisi penjaga hutan.

Alhasil, orang-orang yang melanggar hukum, prajurit-prajurit  dan para pejabat yang sudah terbiasa dengan praktik illegal itu mulai membencinya. Polisi hutan yang semula dimaksudkan untuk menjadi penjaga hutan malah ikut serta dalam praktik pencurian kayu.

Karena tidak didukung penuh oleh pejabat-pejabat rakus yang ada disekelilingnya, dia pun tidak lagi sepenuhnya menegakkan instruksi itu. Tidak ada lagi kontrol terhadap pelaku illegal, tidak ada lagi hukuman bagi mereka yang melanggar hukum. Apa pun yang diminta oleh pejabat disekelilingnya dia berikan. Perlakuan istimewa dia berikan kepada orang-orang sekelilingnya. Para pejabat yang semula membencinya, kembali memuji-muji kebaikan dan hal-hal yang baik seputar pemerintahan ini.

Sebagai penguasa yang tidak ingin digunjingi pejabat-pejabatnya, dia memerintahkan pejabat berwenang untuk melipat gandakan gaji pegawainya, puji-pujian pun semakin datang berlipat ganda dari bawahannya.

Kini, hutan di daerah kami kembali dijarah dan tak ada lagi yang mencegahnya. Bencana banjir bukan lagi tamu yang tak diundang, tetapi telah menjadi rutinitas keseharian bagi warga desa kami diantara kesesakan hidup lainnya. 
[Afrizal Akmal].

0 komentar:

Posting Komentar