Di Kota Yang Tak Rapi

Statistik kota ini yang di atas kertas terlihat mengesankan, ternyata sama sekali tidak memasukkan ongkos besar yang telah ditanggung oleh warganya demi mendapat apa yang dibualkan para ekonom sebagai kemajuan. Siapakah sesungguhnya yang diuntungkan dari pendapatan itu dengan cara picik, menguras keringat begitu banyak buruh murah
di tempat-tempat kerja tanpa jaminan keselamatan? Keuntungan hanya dinikmati sebagian kelompok kecil saja. Sementara buruh-buruh murah itu hidup dengan upah minim, bahkan tidak cukup untuk membeli kebutuhan dasar keluarga mereka.

Di kota yang tak rapi ini, aku kerap mengikuti forum-forum resmi. Bualan tentang kemajuan yang diikuti data-data statistik kelihatannya sangat mengagumkan. Setidaknya pada tahun 2010, laju pertumbuhan perekonomian Aceh pada triwulan IV secara year on year adalah sebesar lima koma sembilan persen, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh tiga koma dua puluh dua persen.

Disisi permintaan, pemerintah mengklaim bahwa peningkatan pertumbuhan didukung oleh peningkatan konsumsi Pemerintah dengan pencapaian realisasi keuangan dan realisasi fisik Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA) yang masing-masing tercatat sebesar delapan puluh tujuh koma dua puluh enam persen dan sembilan puluh lima koma delapan puluh satu persen terhadap total pagu anggaran. Disisi penawaran, seluruh sektor ekonomi menunjukkan pertumbuhan yang positif.

Kondisi ketenagakerjaan juga diklaim terus menunjukkan perbaikan. Angka Kemiskinan terus membaik, dari dua puluh satu koma delapan persen di Maret 2009 menjadi dua puluh koma sembilan puluh delapan persen pada Maret 2010 atau jumlah penduduk miskin Aceh telah berkurang sebesar tiga puluh satu koma dua ribu jiwa selama kurun waktu 2009 - 2010. Tetapi dari semua itu, tak lebih hanyalah dusta yang terus dirawat dengan rapi.

Ditengah rutinitas kepayahan rakyat, Pemerintah Aceh memberikan sejumlah izin tambang di bagian Barat-Selatan hingga ke Subussalam, Aceh Besar, dan wilayah Utara-Timur Aceh. Pemerintah Aceh sangat longgar mengizinkan begitu banyak tambang yang sensitif terhadap lingkungan hidup kepada pengusaha-pengusaha asing, dimana tambang-tambang seperti itu mendapat aturan yang ketat di Negara asal mereka.

Di kota ini, aku menyaksikan sebagian besar rakyat Aceh telah menanggung beban berat dan tersapu dari arus utama perekonomian yang tolak ukurnya tak dapat dipercaya. Neraca perdagangan yang seolah bagus dan angka statistik pertumbuhan pendapatan yang mengesankan itu ternyata hanya mencerminkan kondisi sebagian kelompok kecil yang dekat dengan pejabat pemerintah, yang tidak lain adalah pengendali bisnis.

Aku kembali berpendapat, “Tidak banyak yang bisa diharapkan di negeri yang data statistiknya bagus, tetapi realitasnya sangat buruk.”

0 komentar:

Posting Komentar