Bakong Pulo


Cara berbicara kedua orang ini jenius saat menjelaskan bahwa orang-orang kaya di kota selalu bersedia menjerumuskan orang lain demi menumpuk kekayaan. Aku mengangguk kepala berkali-kali mendengar kejujuran mereka dan berpikir ini pasti karena bakong, penjelasan mereka masuk akal.
Di Pulo1 Aceh, aku menuruni kapal nelayan antar pulau yang berbobot sepuluh ton. Seorang perempuan setengah baya menjulurkan tangan dari atas kapal. Aku memegang tangannya, memandu sampai kedarat. Dia adalah penduduk pulau ini, setiap akhir pekan dia pulang dan pergi dengan menumpang kapal kecil ini, menjenguk anaknya yang sedang bersekolah di kota. Suaminya tak pernah kembali setelah pergi bersama tsunami beberapa tahun lalu.

Aku dan rombongan melanjutkan perjalanan, gugusan Pulo Beureueh, Pulo Nasi, Pulo Keureusik, Pulo Batee, Pulo Bunta dan beberapa Pulo lain yang lebih kecil terlihat sangat indah. Di Pulo Beureueh tempat kami memasang tenda, pantai berlatar teluk menampakkan pasir putih kekuningan dengan ombak yang tenang.

Dua orang pemuda Pulo menghampiri kami. Tampaknya mereka sangat ramah dan membawa beberapa bungkus kacang. Sambil makan, kami saling memperkenalkan diri. Kedua orang ini membuatku terkejut dengan pengakuan bahwa mereka adalah petani bakong2. Aku menyangka mereka tertutup dan beringas tetapi mereka meyakinkan bahwa aku salah. “Bakong menghidupi keluarga kami, kami juga menjadi penebang hutan jika ada pesanan dari orang kota.”

“Barangkali kalian melihat beberapa orang berseragam prajurit3 di jalan tadi.” Salah satu dari mereka menunjuk ke jalan di luar tenda. “Kami membenci mereka.” Ia melanjutkan dengan mengatakan bahwa orang-orang kaya di seberang memberi mereka bayaran, membangun ikatan bisnis dengan kami dan menagih hasil.

Cara berbicara kedua orang ini jenius daripada sekedar kriminal saat menjelaskan bahwa orang-orang kaya di kota selalu bersedia menjerumuskan orang lain demi menumpuk kekayaan. Aku mengangguk kepala berkali-kali mendengar kejujuran mereka dan berpikir ini pasti karena bakong, penjelasan mereka masuk akal.

Bakong adalah sumber daya alam Pulo ini yang memberi masukan kekayaan kepada banyak orang di seberang, meskipun banyak dari kegiatan ini tidak terungkap. Orang-orang Pulo seperti mereka adalah korban dari kemunafikan.

Pemerintah yang baik seharusnya tidak membuat banyak larangan, tetapi memerintah dengan bijak. Mungkin bangsa ini perlu juga berguru kepada Evo Morales, presiden Bolivia keturunan Indian yang berhasil membangun negerinya dengan tambahan penghasilan ekstrak tanaman opium. Alhasil, banyak negara yang membeli obat bius medis yang berasal dari negara itu.

Bakong merupakan sumber daya alam Aceh yang di sia-siakan. Jika saja pemerintah bisa mengelola sumber daya alam ini dengan baik, pasti dapat membantu rakyat yang sekarang kadung dicap kriminal. Dengan menekankan bahwa tanaman tersebut hanya menjadi masalah setelah disalahgunakan.

Setelah menginap beberapa malam di Pulo, dalam perjalanan pulang kami melihat seorang pria muda berdiri di tepi pantai. Kami mendekat dan bertanya, “Apakah kamu berdiri disini untuk menunggu seseorang?”
“Tidak.” Jawabnya.
“O.., mungkin kamu sedang menikmati pemandangan pantai?”
“Tidak juga.”
“Kalau begitu, kenapa kamu berdiri diterik matahari begitu lama?”
“Aku hanya berdiri saja disini.”
Pria muda ini berdiri tanpa tujuan. Aku berpendapat, dia adalah orang gila yang tampan.
“Apakah ini pengaruh bakong juga? “

*
1Pulo = Pulau
2Bakong = Marijuana
3Prajurit = Tidak terlihat dengan jelas apakah mereka benar-benar tentara resmi pemerintah

0 komentar:

Posting Komentar