Tanah Bukan Milik Kita Lagi


Apa yang sesungguhnya sedang terjadi dengan tanah rakyat? Mengapa begitu banyak sengketa tanah seringkali tidak terselesaikan?

Yang Terlewatkan

Apa yang ku saksikan di negeri ini? Aku hampir tidak percaya ketika orang-orang terpelajar yang bekerja di instansi teknis membuat saluran-saluran besar air, sehingga air hujan langsung terbuang ke laut, yang menjadikan cadangan air dalam tanah menjadi kering. Sementara jutaan hektar lahan telah kritis dan terlantar.

Disisi lain, generasi muda petani juga telah kehilangan minat untuk menjadi petani disebabkan kehidupan sebagian besar petani kita saat ini dalam keadaan yang miskin. Hanya petani-petani usia lanjut dan tidak produktif yang masih menekuti pekerjaannya sebagai petani, itu pun sebagai buruh tani dengan kepemilikan lahan rata-rata dibawah seperempat hektar di sawah-sawah yang semakin miskin hara akibat pemakaian pupuk kimia.

Saat berbicara dengan buruh-buruh bangunan di kota, seorang dari mereka menjelaskan dengan ringkas bahwa pekerjaan ini sangat mirip dengan mesin pemeras keringat. Sejak usia delapan belas tahun dia berhenti membantu orangtuanya dari membajak sawah di desa dan pergi ke kota mencari pekerjaan baru, tetapi disini mereka memperoleh upah yang sama buruknya dengan upah bertani di desa.

Aku bertanya apa yang membuat mereka mampu melakukan itu? Aku memperoleh penjelasan-penjelasan yang mencengangkan. Kemiskinan dan penderitaan. Aku rasa, mereka sengsara demi sebuah harga mahal kehidupan banyak orang di kota yang tak bisa berterika kasih. Praktik-praktik perburuhan semacam ini luput dari iklan provit kotanya yang tengah berdagang wisata. 

Para mantan petani yang sekarang menjadi buruh bangunan itu telah menjalani hidup getir, setidaknya berusaha bertahan untuk terus hidup, yang tak bisa dibayangkan kebanyakan orang. Tetapi masyarakat elitnya, menikmati kehidupan yang berbeda.

Aku kembali tak percaya, betapa parahnya situasi ini. Situasi yang kebanyakan orang tidak mempedulikannya. Sebuah konsekuensi?

Di Kota Yang Tak Rapi

Statistik kota ini yang di atas kertas terlihat mengesankan, ternyata sama sekali tidak memasukkan ongkos besar yang telah ditanggung oleh warganya demi mendapat apa yang dibualkan para ekonom sebagai kemajuan. Siapakah sesungguhnya yang diuntungkan dari pendapatan itu dengan cara picik, menguras keringat begitu banyak buruh murah

Perubahan Perilaku Di Kota Kolonisasi

Ada sebuah kota kecil di Aceh, yang pernah menjadi harapan sukses program transmigrasi semasa pemerintahan rezim Soeharto, yaitu “Saree”, kawasan berhutan yang menjadi basis rekayasa kolonisasi,

Mengusap Kejenuhan

Sebuah gerakan mengusik pandanganku, seorang gadis belia di emperan supermarket mengusir lalat yang lahap melalap luka kakinya, dihapusnya luka dengan ujung baju. Wajahnya tertutup debu. Tak ada senyum disana. Aku mengikuti arah matanya. Mataku mulai lembam memahami nasibnya. Aku mengangkat pandangan. Merek supermarket tepat menempel di bangunan tinggi, terdapat tulisan Pante Pirak. Sebuah becak berjok setengah miring perlahan mendekati supermarket, tampak ganjil diantara mobil-mobil pengunjung.

Siang itu Kutardja panas dan gerah. Saat kaki berbalik arah di lintasan depan supermarket, aku hampir tertabrak sepeda motor yang melaju kencang. Sekarang perhatianku beralih kesisi penarik becak yang sedang berjuang susah payah untuk mencari pelanggan, mengejar setoran dan sisanya untuk makan.

Di jalan sana, arus lalu lintas mobil dan  motor menyalakkan klakson. Asap kenalpot membuat mual. Lambungku mulai merasakan akibatnya. Keadaan ini benar-benar mempengaruhiku. Aku bertanya-tanya apakah kota ini sudah tercerabut dari moral nenek moyangnya? Bagaimana mungkin orang-orang yang hidup lebih makmur, yang bekerja di institusi-institusi formal negara tega menjarah "kesejahteraan" gadis belia di emperan itu.

Siapakah yang telah merampok kalangan papa dan menyerahkan hasil rampokan kepada kalangan kaya - dari situasi ini? Siapakah yang telah mendapatkan komisi dari semua ini? Bagaimana mereka tega melakukannya? Bagaimana para pejabat di institusi-institusi negara dan orang-orang yang ada dibalik proyek megah kota ini mampu menjalani hidup?

Siapakah yang telah berpandangan bahwa kelas merekalah yang paling pantas menikmati fasilitas hidup, sementara kelas rendahan dicap pemalas dan pantas merasakan kesengsaraan dalam bentuk apa pun. Kelas rendah dan pemalas tak perlu diberi tempat, mereka tak perlu diberikan listrik dan air lading.

Beberapa ribu rupiah aku serahkan untuk pengemudi becak dan memintanya mengantarku pulang. Gadis-gadis kampus yang duduk santai di kursi burger di pinggir trotoar Jalan T. Nyak Arief sedikit menyegarkan mataku, mempesona dan menjadi pengingat bahwa kota ini adalah kota pelajar.

Ditanganku, halaman koran Serambi Indonesia memberitakan, "Penggelapan uang pajak tidak hanya marak terjadi di Jakarta, seperti yang dilakukan Gayus Tambunan dan Bahasyim Asrafi.”  Praktek menilap duit pajak juga berlangsung di kota ini. Dua triliun rupiah telah ditilep dalam lima tahun terakhir. Modusnya, dana pajak yang dipotong oleh bendaharawan daerah diendapkan dalam rekening pribadi dan tidak disetor ke kas negara.

Waktu terus bergulir, disini aku merasa bodoh. Gadis belia di emperan, mimpinya singgah di langit. Lukanya disimpan dihati sambil mengusap kejenuhan.

Afrizal Akmal


Bakong Pulo


Cara berbicara kedua orang ini jenius saat menjelaskan bahwa orang-orang kaya di kota selalu bersedia menjerumuskan orang lain demi menumpuk kekayaan. Aku mengangguk kepala berkali-kali mendengar kejujuran mereka dan berpikir ini pasti karena bakong, penjelasan mereka masuk akal.

Hutan Kami Kembali Dijarah

Di negeri yang kerap dilanda bencana alam, rombongan kami yang terdiri dari beberapa orang berkunjung ke kediaman seorang penguasa negeri. Beberapa pejabat mempermainkan kami, mereka menyuruh kami untuk melalui pintu belakang yang sempit. Aku berpendapat, “kami seperti sedang mengunjungi ketua penyamun,

Seratus Milyar, Untuk Sebuah "Ketololan"

"Apa pun yang dicelup dalam warna biru akan menjadi biru. Apa pun yang dicelup dalam warna kuning akan menjadi kuning. Setelah diberi pewarna beberapa kali, warna yang asli dari sutra tidak dapat dikenali lagi. Ini adalah benar bukan hanya untuk sutra, tetapi juga pada orang atau negara. Seseorang dapat dipengaruhi oleh teman-temannya. Sebuah negara dapat berubah oleh pengaruh disekitarnya."