Halimun


Aku sedang bersandar ke pohon yang miring, melepaskan rasa lelah setelah seharian menempuh perjalanan bersama rombongan. Pandangan ku tertuju kepada para petani yang memikul beban berat dipundak. Para petani di lembah Gunung Halimun baru saja memanen padi. Lembah ini sangat indah.

Empat double cabin yang sedang melewati jalan menghalangi pemandangan ku. Pemandu kami memberitahu bahwa double cabin itu milik perusahaan kontraktor yang sedang melakukan survey jalan Panton Rasi, Tangse, Aceh Pidie.

"Ini gila", celutuk ku. Jika jalan ini dibangun, maka lembah ini akan hancur. Gagasan membangun jalan dengan alasan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di lembah yang topografinya curam hanya omong kosong. Ini adalah kawasan hutan lindung dan sekaligus sebagai sumber air untuk sejumlah sungai di Pidie seperti Krueng Tiro dan sejumlah sungai di Kawasan Meureudu, Pidie Jaya.

Kami melanjutkan perjalanan. Dari Desa Pulo Mesjid, puncak gunung halimun tampak diselimuti awan. Rombongan kami menyempatkan diri berziarah ke tiga makam pahlawan Aceh yang syahid pada 1908 ketika melawan kolonial Belanda, yaitu makam Tgk. Maet, Tgk. Maat dan Tgk. Husen. Di daerah ini pulalah Almarhum Tgk. Hasan Muhammad (Hasan Di Tiro) menoreh sejarah penting bagi bangsa ini, yaitu pendeklarasian Aceh Merdeka pada 1976. Gunung Halimun telah melegenda dan menjadi "sacred sites" bagi sebagian rakyat Aceh.

Berbagai cerita mistis mengiringi perjalan kami. Warga disini meyakini bahwa Halimun adalah tempat para aulia dan keramat. Aku dikejutkan oleh teriakan yang melengking dari seorang teman dalam rombongan, sepertinya dia digigit ular. Beberapa teman lainnya mencoba memberi pertolongan, "Sialan," teriak mereka. "Ini hanya binatang kecil." Ternyata teman ku hanya digigit pacat. Tanpa sadar aku ikut memaki, "Kalau 'gak bisa membedakan gigi ular dengan bibir pacat, sebaiknya jangan ikut dalam rombongan ini." teriak ku berulang kali.

Kami melanjutkan perjalanan dan berhenti di tepi alur yang jernih. Beberapa teman mengisi air kedalam jirigen kecil untuk perbekalan. "Mungkin air di jirigen ini akan menjadi air terakhir, jika jalan itu dibangun," celutuk ku.

Pembangunan jalan pertanian di Panton Rasi sepanjang empat kilometer ini sedang diusulkan secara diam-diam melalui dana Otsus ke Provinsi Aceh. Jika disetujui, maka halimun hanya akan menjadi legenda bisu dan satwa-satwa akan pergi atau "membalas."
Wallahu'alam...

Afrizal Akmal

0 komentar:

Posting Komentar