Culdesac Di Kampanye Earth Hour

Salahkan korban dan lepaskanlah tanggung jawab. Rumus inilah yang juga sedang digunakan pada even tahunan kampanye Earth Hour yang mengajak warga mematikan lampu selama satu jam sebagai kepedulian terhadap bumi. Anehnya, banyak yang mempercayai dan mengikuti ajakan ini.

Padahal emisi di Indonesia atau di negara-negara dunia ketiga bukanlah masalah pemakaian listrik oleh warga. Tetapi jelas-jelas, kausa efisien emisinya adalah bobroknya perilaku negara, atau lebih jelas lagi sifat eksploitatif dari pembangunan yang keliru.

Para aktivis lingkungan juga sering terjebak dalam pembahasan emisi ini. Kesalahan ini disebut dengan  cul-de-sac, suatu istilah dalam bahasa Perancis untuk menunjukkan kebuntuan pemikiran. Sesuatu yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dipercayai oleh banyak orang.

Pertanyaannya, apakah dengan mematikan lampu warga, akan mengurangi emisi dari pembangkit-pembangkit besar listrik yang menguapi minyak bumi, batu bara, gas dan energi tak terbaharukan lainnya?
Eksploitasi mineral-mineral itu oleh korporasi asing yang didukung negara di negeri ini juga tidak bisa diperkecil hanya dengan mematikan lampu warga saja bukan?

Korporasi itulah yang seharusya dimatikan dalam kampanye Earth Hour oleh aktivis lingkungan. Merekalah penyebab emisi terbesar di bumi ini.
Orientasi pasar dari kebijakan penyediaan energi yang justru memperparah perusakan alam dari polusi udara dan menghancurkan fungsi-fungsi ekologis kenapa tidak menjadi fokus utama kampanye?

Sebagai warga, kita jangan ikut terjebak dalam kebuntuan perpikir culdesac. Negaralah yang harus bertanggung jawab terhadap kedekatan yang mereka bangun dengan korporasi tambang-tambang mineral itu.

Mari... Matikan korporasi dan tambang-tambang mereka atas sumber daya alam kita.


Salam,
Afrizal Akmal


3 komentar:

  1. benar sekali. seperti juga kampanye penghematan air. seharusnya yang menghemat air itu adalah korporasi semacam hotel yang tumbuh di pemukiman penduduk. mereka tanpa ampun menyedot air dari perut bumi rakyat. dan sebagai korban kita diarahkan untuk menghematnya. padahal pada dasarnya yang harus dijaga itu sumber air itu sendiri. kita telah terjebak dalam kepintaran sendiri. namun, lemah menalari. salam lestari

    BalasHapus
  2. Hmm, hati-hati dengan target/sasaran tembak dalam pemikiran kita. Earth hournya yang salah atau corporatenya yang salah? Apakah dalam kampanye-nya Earth Hour management (whatever it named) menyatakan kalau sdh ikut Earth hour berarti seseorang atau suatu pihak sdh dikatakan ramah lingkungan? Kalau Ya mereka bilang begitu berarti... wah...saya setuju dengan bg Afrizal Akmal. Pertanyaannya kemudian adalah apakah itu pendapat personal penyelenggara Earth Hour atau resmi.
    Saya pribadi(saya tidak terikat pd organisasi apapun) mendukung Earth Hour sebatas bahwa EH adalah SALAH SATU cara untuk mengurangi kerusakan lingkungan, garis bawahi...bukan satu2nya cara, karenanya tidak bisa seseorang yang melakukan (hanya) mematikan lampu meng-claim dirinya atau usaha-nya sudah benar2 ramah lingkungan, masih banyak persyaratan yang harus dilalui. Tapi bolehlah kalau utk menyatakan sudah berKONTRIBUSI.
    Melindungi bumi tidak bisa dilakukan dengan satu cara saja, itulah positifnya ada banyak organisasi yg melakukan dengan pendekatannya masing2, sehingga bisa menjangkau komponen masyarakat yang beragam. Saya lihat EH ini lebih 'kena' utk memperbaiki gaya hidup anak2 muda, masyarakat umum, dan budaya konsumtif listrik suatu badan. EH belum menjangkau target kerusakan hutan saat ini, dan sepertinya mereka juga tdk meng-claim seperti itu. Mungkin kita berharap terlalu banyak kalau EH melakukan itu, dan sepertinya ada divisi lainnya dr organisasi/pihak pendukung EH ini yg mengurusi masalah hutan. Biarlah masalah gaya hidup hijau di'urus' oleh EH, jadi yang lain bisa fokus pada isu hutan, laut, dan lainnya.

    Intinya, yg merusak hutan atau laut atau sungai sebetulnya siapa?itulah yang seharusnya menjadi target tembak. Ada bbrp (oknum)organisasi yg saya lihat menyerang pihak lain yang memiliki pendekatan yang berbeda, meskipun misinya sama. Marilah kita saling mendukung atau paling kurang saling menghargai, dan fokus pada keahlian dan metode yang kita kuasai sehingga labih banyak lapisan publik yang 'terjangkau' pesan lingkungan ini.
    Salam Hijau/Biru

    BalasHapus
  3. Anonim yang baik,
    Catatan ini adalah sebuah analitik dinamika, bukan sebuah "serangan". Saya menerima dengan senang hati setiap kritik dan saran dari para pembaca. Terima kasih, dan Tabik atas komentarnya.

    Salam Visioner,

    BalasHapus