Benteng Inong Balee, Sejarah dan Kegigihan Perempuan Aceh

Di tepian laut Selat Malaka, ombak bergemuruh memecah keheningan. Adakalanya laut tenang dan bening menampakkan terumbu karang beraneka warna. Sementara dari atas tebing, batu-batu tersusun berlapis. Dari atas bukit Malahayati ini, pemandangan Selat Malaka sangat indah.

Kadang, aku berdiri dan menatap perahu-perahu nelayan. Ku khayalkan kemasa silam pada abad ke-16 yang lalu, sebuah kapal berbendera Belanda hangus dibakar oleh panah api pasukan Armada Inong Balee. Ku khayalkan juga kegaduhan dari atas kapal Belanda itu ketika seorang Laksamana perempuan Aceh menghunus rencong dengan sekuat tenaga, mencabik tepat dilambung seorang Belanda bejat, orang Belanda pertama yang menemukan jalur rempah-rempah dari Eropa ke Nusantara, Cornelis de Houtman. Kafir itu merenggang nyawa.

Disini, di atas benteng Inong Balee sebagian dinding benteng masih tegak berdiri, namun di beberapa bagian lainnya batu-batu benteng telah berserakan bersama memudarnya kejayaan Kesultanan Aceh. Jadi, apa yang ku lakukan di sini? Ku ajukan pertanyaan ini pada diri ku sendiri. Bayangan Kesultanan mendatangkan rasa tenang dan aneh. Kejayaan Kesultanan Aceh dan obor-obor temaram dari kapal-kapal yang melintasi Selat Malaka di masa itu, kini tinggal sejarah.

Ombak-ombak yang terkadang menghempas tebing di bawah benteng telah membawa ku kembali menuju ke masa silam, ketika perempuan cantik tinggi semampai memimpin pasukan Inong Balee. Ku teduhkan mata dengan telapak tangan diatas alis, untuk memandang lebih jauh ke selat lepas. Ku fahamkan kisah Laksamana perempuan pertama di dunia. Ku fahamkan lesung pipi dan senyum manisnya, ku fahamkan juga lengkingan suara Allahu Akbar dari mulutnya ketika pedangnya berdesing  mengayun berhadap-hadapan dengan pasukan musuh.

Dia adalah istri Panglima Armada Selat Malaka, dia menjabat sebagai Komandan Protokol Kerajaan Darul Donya Aceh Darussalam, dia mampu mengatur seluruh kegiatan yang akan dilakukan Sultan dan petinggi-petingginya. Dia mengatur etika dan tata kehidupan di dalam istana, menerima tamu-tamu agung yang akan bertemu dengan Sultan. Dia memiliki wawasan yang luas, pernah menjabat sebagai Kepala Pengamanan Samudra, menumpas perompak di laut. Dia adalah perwira perempuan yang menyelesaikan studi di Ma’had Baitul Maqdis dengan julukan kehormatan. Dia adalah Laksamana Keumalahayati. 

Tepat di tempat aku berdiri, di atas bukit ini sisa-sisa benteng Laksamana Keumalahayati masih ada. Benteng ini dibangun oleh Sultan Alauddin Ri’ayat Syah Sayyidil Mukammil (1589-1604 M). Benteng ini merupakan pusat pertahanan untuk wilayah perairan Selat Malaka. Selain itu, benteng ini juga digunakan sebagai asrama bagi Laskar Inong Balee, janda yang suaminya gugur di medan perang.

Ku perhatikan bentuk dan posisi benteng persegi panjang menghadap ke barat, mengarah ke Selat Malaka, berfungsi untuk mengawasi setiap kapal asing yang masuk. Sisa-sisa tembok benteng yang masih bisa terlihat dengan jelas berada di bagian barat berupa susunan batu alam berspesi kapur menyerupai tembok yang membujur utara-selatan dan yang membujur timur-barat. Pondasi di bagian timur berukuran panjang sekitar 20 meter. Di bagian barat terdapat tembok dengan ukuran panjang kira-kira 60 meter dan tebal 2 meter, dengan ketinggian 2,5 meter. Di bagian utara terlihat tembok benteng dengan ukuran panjang sekitar 40 meter, tebal 2 meter dan tinggi bagian dalam sekitar 1 meter. Ada 4 lubang pengintaian di tembok yang membujur utara-selatan. Lubang pengintai menyerupai bentuk tapal kuda dengan tinggi lubang bagian luar sekitar 80 hingga 85 centimeter dan lebar 1 meter. Tinggi lubang bagian dalam sekitar 90 centimeter dan lebar 1,6 meter. 

Disini aku memetik pelajaran. Sejarah Aceh dipenuhi kegigihan bukan hanya dari kaum laki-lakinya, tetapi juga kaum perempuan. Nun jauh di abad ke 16, perempuan di Aceh telah mendapat tempat dan diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam mengambil keputusan penting dalam ketatanegaraan.

Aku berkeliling menikmati alam sekitar. Tak dapat ku tepis kekaguman ku disini, alam Aceh sangat indah. Benteng ini secara administratif berada di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Untuk sampai ke tempat wisata Aceh ini, kira-kira kurang sedikit dari satu jam dengan mengendarai kenderaan atau sekitar 35 Kilometer dari Ibukota Banda Aceh.

Matahari mulai meninggi, aku belum mau beranjak. Aku masih ingin memetik lebih banyak lagi pelajaran tentang sejarah negeri ku, kisah heroik perempuan pejuang Aceh benar-benar pernah ada. Aku ingin berpesan kepada anak-anak ku, “jangan menganggap ini tak pernah ada, rawat dan peliharalah.”

Afrizal Akmal








1 komentar:

  1. Lansekapnya sedang dibuldozer untuk pembangunan hotel..
    Miris ya...

    BalasHapus