Semadam


Rombongan kami yang terdiri dari beberapa orang, baru saja menginjakkan kaki di salah satu perkampungan di wilayah pegunungan Leuser. Aku dikejutkan oleh bocah kecil yang sedang menjerit memanggil ibunya dari belakang rumah kediamannya di kampung Semadam , Kecamatan Semadam, Aceh Tenggara. Ia dikerubuti dua ekor ayam, yang sedang mematuk bokongnya karena baru saja membuang hajat. Ibunya yang tengah hamil tua, sedang membelah batok biji kemiri di beranda rumah. Ia bergegas dan memetik beberapa helai dedaunan tua di samping rumahnya kemudian membersihkan pantat si kecil.

Aku memperhatikan dinding rumah yang terbuat dari papan limbah sortiran panglong kayu yang masih ada kulit kayunya. Dinding rumah banyak celahnya, pemandangan hidup seperti ini sudah menjadi bahagian hidup dari kebanyakan warga disini. Kaum lelaki, pagi itu sedang pergi memungut kemiri yang jatuh di kebun.

Kami melanjutkan perjalanan, saat meyusuri jalan setapak berliku di lembah Sungai Alas, pemandu kami berkomentar, “Kami senang jika pemerintah tidak membangun bendungan besar dan membuat lembah ini terendam, “ ucapnya. Lembah ini sangat indah.”

Memori otak ku mulai mengingat-ingat kembali peristiwa 26 April 2005 lalu, ketika banjir meluluhlantakkan daerah ini. Korban tewas lebih dari delapan belas orang dan ratusan rumah hanyut menyusul meluapnya sungai Alas.

Hutan lindung yang kaya akan kayu ini telah menggoda para penjarah. Dari 2,5 juta hektar hutan Leuser itu, lebih dari 262 ribu hektar telah berstatus gundul. Kampung Semadam ini adalah salah satu wilayah tangkapan air, tetapi pengrusakannya terus berlanjut. 

Pemandu kami kembali mengungkapkan kegusarannya kepada Dinas Kehutanan setempat,”Pemantauan oleh pemerintah hanya dilakukan manakala terjadi musibah saja, itu pun hanya sesaat. Setelah itu, penjarahan hutan terjadi lagi.” Ungkapnya kesal.

Matahari telah berwarna saga, ketika kami kembali ke kampung dan menginap di salah satu rumah warga. Anak perempuan pemilik rumah membawa seceret air yang langsung ditimba dari ember tetangga untuk disuguhkan kepada kami. Air itu tidak direbus. Aku tidak tahu apakah mengkonsumsi air yang tidak direbus telah menjadi kebiasaan hidup warga disini. Aku urung bertanya, ini sedikit sensitif dan tidak sopan.

Malam itu kami terlambat tidur, beberapa teman dari angota rombongan masih terlibat pembicaraan dengan kepala keluarga di rumah kami menginap. Kerakusan dan ketidakpekaan pemerintah daerah tampaknya menjadi keluhan utama si empunya rumah ini. “Kami telah merasakan pahitnya bencana dan betapa menderitanya ketika harus tinggal berbulan-bulan di tenda pengungsian. Banjir bandang setiap saat bisa kembali mengancam kami, sebab para perambah hutan masih terus berkeliaran.” Kata si empunya rumah.

Afrizal Akmal

Kelola Hutan, Bagai Menopang Langit Runtuh


Lima ratus hektar areal gambut di Kabupaten Aceh Barat lenyap hanya dalam dua minggu, tiga ribu hektar lahan gambut lain disekitarnya masih terancam. Penyebabnya tidak lain adalah korporasi kelapa sawit.

Mengapa ini bisa terjadi? Mari kita membuat analisa yang sederhana; Tidak banyak yang bisa diharapkan dari industry kelapa sawit, Beberapa masalah yang perlu mendapatkan perhatian adalah dampak sosial dari industri. Pembukaan lahan yang luas oleh peruahaan perkebunan kelapa sawit dapat merubah dinamika perekonomian lokal, mengubah pemilik lahan menjadi tenaga upahan atau pekerja, dan mereka juga hanya memiliki sedikit alternatif dalam kesempatan kerja kecuali dengan perusahaan perkebunan itu.

Potensi pembangunan kelapa sawit yang dianggap menguntungkan, seringkali digunakan sebagai pembenaran dalam pemberian izin untuk pembersihan hutan konservasi yang bernilai tinggi. Walaupun sebenarnya bukan lokasi yang cocok untuk pengembangan kelapa sawit, sejumlah perusahaan telah mengantongi izin untuk perkebunan mereka dan mendapatkan lebih banyak keuntungan dari kayu yang mereka tebang, kadangkala bahkan tidak pernah ditanami kelapa sawit. Tanah-tanah gambut dan endapan carbon yang bernilai tinggi juga menjadi rusak.

Cara yang paling cepat dan murah untuk membuka lahan adalah dengan cara membakar, sehingga menyebabkan polusi udara dan emisi gas rumah kaca. Api yang digunakan untuk membersihkan lahan juga seringkali menyebar diluar kontrol sehingga merusak vegetasi hutan inti dan ekosistem didalamnya serta mengusir binatang dan memusnahkan banyak tumbuhan obat. Ketika hutan diubah menjadi kebun kepala sawit, maka antara 80% hingga 100% binatang jenis reptil, mamalia dan burung tidak dapat bertahan hidup dalam lingkungan itu. Binatang-binatang tersebut akan menyerang beberapa perkampungan terdekat yang mereka jumpai sebagai balasan atas perlakuan buruk manusia terhadap mereka (Baca:satwa menyerang manusia).

Saat dalam tahap pertumbuhan, penggunaan herbisida dan pestisida berkadar racun tinggi seperti Gramoxone, Roundup dan Polaris sudah meluas. Dalam tahap pengolahan, limbah pabrik kelapa sawit seringkali menyebabkan pencemaran. Pembersihan lahan juga menyebabkan air sungai menjadi kekuningan dan keruh. Konsekuensi logis dari hal tersebut dan implikasi terhadap kesehatan dan mata pencaharian masyarakat setempat bisa menjadi sangat buruk.

Lemahnya pengawasan terhadap pengelolaan hutan gambut merupakan rangkaian kesalahan, mulai dari perencanaan dan penetapan regulasi. Kebijakan-kebijakan yang diambil selalu mendahulukan kepentingan perusahaan dan sering mengabaikan kepentingan masyarakat yang lebih luas. Sehingga pengelolaan hutan yang semula bertujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi untuk mensejahterakan masyarakat hanya mensejahterakan segelintir orang dan bahkan juga menimbulkan penderitaan bagi masyarakat setempat.

Maka tawaran yang masuk akal dan harus segera dilakukan adalah “Revitalisasi” kebijakan dan undang-undang mengenai pengelolaan hutan. Tanpa itu, proses pemeliharaan hutan akan sia-sia belaka, bagai kata pepatah – “menopang langit yang hampir runtuh….”

Afrizal Akmal

Kuli PU Besar Jasa Mu


Kuli PU, sebuah komunitas masyarakat yang nyaris tidak ada tempat untuk “protes”, sebuah potret keprihatinan yang memilukan bagi mereka yang perduli akan nasibnya. Hampir semua pekerjaan kotor dan berbahaya mereka lakukan. Betapa besar jasanya, tenaga mereka telah menguntungkan bagi banyak orang.

Dinamika ini memberi signal kepada kita bahwa konsep kelas sosial masih merupakan kategori yang mendasar dalam struktur sosial. Posisi kelas sosial telah diterjemahkan sebagai faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup dan kesadaran individu.
Faktor-faktor itu telah lama menggumpal menjadi dua kelompok besar yang jurang sosialnya begitu dalam, yaitu antara borjuis dan proletar. Kelas yang berbeda ini sangat sensitif terhadap konflik-konflik yang selama ini begitu kerap terjadi di negeri ini.

Kuli PU… sering kita dapati dalam “penjara-penjara struktur sosial”, dalam ruang kenyataan yang ekstra-eksploitatif - menjadikan mereka selalu tergantung dan tidak kuasa melawan ketika tingkat upah mereka tergantung dari sejumlah “dewa” pengusaha dan birokrasi culas.
Dimanakah harapan untuk memperbaiki nasib dalam ke-cemarutan pengelolaan finansial negeri ini? Disisi lain, komunitas masyarakat ini telah dipandang sebagai kenderaan yang dapat memberi manfaat dalam proses politik dan kekuasaan. Lagi- lagi Kuli PU menjadi kenderaan penting dari joki politik golongan tertentu.

Bagaimana besok?
Nasib mereka?
Nasib Kuli PU.

Afrizal Akmal