Alue Tingkeum

Dalam sebuah perjalanan yang terdiri dari dua double cabin, kami memasuki kampung Alue Tingkeum. Saat kenderaan melintasi para petani yang bersusah payah memikul karung berat dipundaknya, aku tidak sanggup menepis “beban pikiran” bahwa kami pasti menimbulkan kesan lebih hebat dibanding mereka. Ketika kami berhenti di kakus umum tanpa atap dan berdinding terpal plastik di pinggir payau, beberapa teman buang air kecil sambil bersiul dan merokok. Aku kembali berpikir bahwa dimata warga setempat, kami pasti terlihat seperti serombongan penyamun berpakaian bersih.

Menurut ku, perjalanan ini sama sekali tidak nyaman. Kehadiran kami di tepi payau telah membuat risih beberapa perempuan kampung yang sedang mencuci pakaian di air payau itu, meski ada seorang perempuan berpakaian handuk mini bertingkah setengah genit saat teman ku memperhatikan mereka. 
 
Kami melanjutkan perjalanan, pemandu kami menunjukkan rumah-rumah warga yang setengah miring dan hampir roboh. Tak terhitung berapa banyak kaum lelaki di kampung ini yang telah menjadi korban eksekusi di masa perang bersenjata, sebelum perdamaian pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) berlangsung. Tetapi yang jelas sekarang terlihat adalah “tanda penindasan” pemerintahan yang tengah berlangsung. 

Pemandangan sosial ekonomi warga disini hampir mirip dengan negeri jajahan. Anggota rombongan kami sering membandingkan keberadaaan warga kampung Alue Tingkeum dengan para penguasa negeri ini yang kesejahteraannya sangat jauh berbeda.

Kampung Alue Tingkeum ini hanya sepuluh kilometer jaraknya dari ibu kota kecamantan Lhoksukon, Aceh Utara, tetapi kampung ini menyandang status kampung tertinggal, atau mungkin lebih tepat kalau kita sebut kampung yang sengaja ditinggalkan, tak ada perhatian eksekutif yang katanya “baik hati” saat menjelang pemilu saja. Tidak ada sekolah dasar di kampung ini, jalan menuju kampung ini pun sulit dilalui dan becek di saat hujan. 

Di kampung ini kami kesulitan mendapatkan air bersih, jaringan PDAM juga tidak ada. Warga disini harus membeli lima ribu rupiah air bersih per jerigen dari penjaja air. Air sumur warga berwarna kuning, bau dan asin. 

Kami keluar dari mobil, dan orang-orang kampung menghampiri. Para lelaki masih memanggul cangkul di pundak. Saat menghampiri kami, mereka sedang menuju jalan pulang ke rumah setelah seharian mencangkul di sawah tadah hujan. Sawah-sawah mereka belum di aliri irigasi teknis. Padahal pemerintah setempat sudah sering berjanji akan membangun irigasi di kampung mereka. “Jika musim hujan, sawah-sawah bisa ditanami dan kami mendapatkan panen secukupnya, tetapi jika tidak turun hujan, maka sawah menjadi kering dan kami tidak dapat mencukupi beras selama beberapa bulan.” Keluh seorang warga. 

Saat rombongan kami berbicara tentang dampak negatif pemanasan global, mereka segera pergi. Seorang perempuan kampung memberi tahu bahwa suami mereka sudah jenuh mendengar penjelasan tentang pemanasan global. “Sudah banyak tim dari luar yang datang ke mari dan berbicara tentang iklim global. Itu tidak ada artinya bagi kami, dan kami akan terus hidup seperti ini”, tambah perempuan itu. 

Aku mengamati rombongan kami yang sedang berbicara, tampaknya pembicaraan tim ini tak ada gunanya. Aku mulai mencatat dan mengajukan beberapa pertanyaan dalam benak ku sendiri. “Bagaimana masuk akal rombongan kami bercerita tentang pemanasan global kepada orang-orang di kampung ini, sedangkan kami datang ke sini mengendarai dua mobil double cabin yang boros bahan bakar. Di kota, istri-istri kami juga berbelanja dengan boros, menghidupkan kulkas dan AC selama dua puluh empat jam setiap harinya, membuang lebih dari sepuluh bungkus kantong plastik bekas belanjaan ke dalam keranjang sampah setiap harinya, rombongan kami juga mengisap rokok dan membuang puntungnya di jalan.”

Terlintas dalam benak ku bahwa sangatlah penting memahami apa yang sesungguhnya terjadi pada diri kita sendiri. Rombongan seperti ini tak ada gunanya. Ini hanya akan menjadi tim yang pergi dan pulang dan menyusun laporan akal-akalan yang keliru.

Di kampung Alue Tingkeum ini, aku memetik pelajaran yang berbeda. Aku tidak tahu apakah teman-teman serombongan ku juga dapat mengambil pelajaran. 

Sebaiknya rombongan seperti ini segera kembali ke kota dan mengajak keluarganya masing-masing untuk tidak membeli barang yang kemasan dan bahan dasarnya tidak ramah lingkungan. Pergilah berbelanja ke toko-toko barang bekas yang semua barangnya adalah hasil daur ulang. Tulislah surat kepada produsen barang mewah beberapa alasan mengapa kita menolak membeli dari mereka. Dukunglah para pedagang lokal dan anjurkan kepada toko-toko untuk membeli dari petani dan produsen lokal. Berbelanjalah di pasar petani setempat. Berikanlah pesan bahwa pihak-pihak yang memakai uang kita, seperti Bank, direktorat pajak, dan perusahaan tempat kita membeli sahamnya agar melakukan investasi yang bertanggung jawab terhadap sosial dan lingkungan hidup. Ini akan lebih berdampak bagi bumi yang kita tempati dan memberi pesan yang jelas bahwa kita sendirilah yang harus lebih dulu mengabdikan diri kita untuk menciptakan dunia yang stabil, berkeadilan dan berkelanjutan.

Afrizal Akmal

6 komentar:

  1. I love this kind of jurnal. Keep writing okay?

    BalasHapus
  2. Nadine, thanks for the appreciation...

    BalasHapus
  3. Luar biasa bang, semakin tajam repostasenya...
    Inspiratif.

    BalasHapus
  4. galak syit tajak maen lagee kawasan lam laporan perjalanan di wateuh

    BalasHapus
  5. Husaini, Meunyo neujak kenan bek tuwo neba logistik ala kadar... Phet that syedara tanyow yang na di gampong nyan.

    BalasHapus
  6. Sebuah pengalaman berharga,
    salam kenal bang..

    BalasHapus