Save Our Planet dengan ‘Budaya Reparasi’

-->
Betapa cara berpikir masyarakat global telah diracuni dengan ‘bangunan komoditi’ sebagai cara untuk menciptakan kekacauan didalam hubungan sosialnya. Masyarakat kapitalisme telah terbangun begitu rapi dan mendorong strategi-strategi persaingan dalam gaya hidup antar kelas dan golongan. Ada fobia terhadap sesuatu yang sudah dipandang usang atau sering diistilahkan ‘ketinggalan zaman’. Kemudian dibangunlah logika budaya yang baru, yaitu berupa persaingan gaya hidup, hasrat memiliki yang berlebihan dan percepatan produksi dengan dalih efisiensi.


Kapitalisme merupakan sistem ekonomi yang dibangun untuk memberikan totalitas kepercayaan kepada mekanisme pasar dalam menentukan arah pertumbuhan. Tidak bisa dibantah lagi bahwa negeri ini sedang mengendarai ‘kenderaan kapitasilme’ melalui peraturan-peraturan negara yang ‘melacurkan’ diri kepada pasar bebas. Salah satu konstruksi utama dari mekanisme pasar bebas adalah agar pertumbuhan terus berlangsung, industri-industri terus dipacu untuk berproduksi dan orang-orang didorong untuk terus-menerus menjadi konsumen sejati dengan pola hidup konsumtif.

Di dalam frame pembangunan yang seperti ini, kebutuhan-kebutuhan artifisial yang sebenarnya tidak esensial terus saja diproduksi. Prestise, status dan simbul-simbul adalah bentuk hasrat yang sudah terbangun secara sosial dan menggurita. Hal ini telah mendorong meningkatnya eksplorasi dan eksploitasi terhadap sumber-sumber daya alam, menguras habis setiap tetesan energi yang dikandung bumi melalui mitos-mitos pertumbuhan yang sekarang getol ‘didewakan’.

Kondisi ini membawa bumi yang kita tempati kepada suatu ancaman ekologis, dimana realitas menunjukkan bahwa bumi tidak mampu lagi menampung laju gerusannya, yang pada akhirnya akan membawa kebinasaan bagi manusia itu sendiri.

Untuk memperbaiki kondisi diatas - rasa-rasanya hampir tidak mungkin, sebab laju kerusakan melebihi usaha untuk memperbaikinya. Namun demikian masih ada sedikit harapan untuk memperlambat global collapse dengan membangun ‘counter life style’ (gaya hidup tandingan).

Masa depan bumi ditentukan oleh kebijakan manusia yang bisa berpikir ‘holistik’ dengan melihat segala sesuatu di dalam keseluruhan, bukan sebagai bagian-bagian yang terpisah-pisah. Yang diperlukan sekarang adalah kehidupan yang harmonis dan seimbang. Lebih tepatnya adalah gaya hidup yang berorientasi kepada keseimbangan material dan spiritual. Prinsip ‘equalibirium’ (keseimbangan) harus dijadikan tumpuan dalam menyusun sebuah masa depan masyarakat bumi yang lebih baik.

Konsep ‘Khalifah Fil Ardhi, yang memuat ajaran-ajaran tentang keserasian, keseimbangan dan kemakmuran bersama (keadilan) merupakan ajaran mengenai ‘save our planet’ yang perlu dihidupkan kembali. Hidup harus dimaknai tidak hanya sekedar pemenuhan kebutuhan materi, tetapi juga perlu diperkaya dengan kebutuhan spiritual.

Sekarang saatnya untuk membangun kesadaran ummat manusia bahwa gaya hidup masa depan yang lebih baik adalah gaya hidup yang mengajarkan bagaimana kita membeli sesedikit mungkin dan secara kreatif cobalah untuk ‘mereparasi’ sesuatu untuk kebutuhan-kebutuhan kita, ketimbang membeli yang baru. Keluarlah dari gaya hidup artifisial konsumerisme semu.

Kepada teman-teman yang sekarang duduk di legislatif dan eksekutif perlu kita katakan, “Bung, ‘budaya reparasi’ perlu diberi tempat dan tuangkanlah ini ke dalam formal kebijakan yang anda rancang di masa-masa lima tahun anda menjabat, demi hidup yang lebih arif dan manusiawi. Demi membangun masa depan bersama yang lebih adil.