Komunitas Berpagar Tinggi

Ada sesuatu yang sedang berlangsung di kota ini. Eksistensi yang tak rapi, kontras dan Janggal. Perumahan baru yang berpagar ataupun perubahan dari Gampong kota menjadi komunitas Gampong berpagar tinggi ternyata telah menjadi sebuah kecendrungan untuk mendefinisikan identitas teritorial sebuah komunitas di kota ini.

Di Banda Aceh, tipe komunitas ini mulai berkembang pesat dan tanpa arahan yang kuat dalam konteks perencanaan kota. Alasannya sederhana, menciptakan defensible space untuk meminimalisir terjadinya tindak kriminal di lingkungan mereka sebagai mekanisme deterrence.

Komunitas berpagar tinggi mencoba untuk mendefinisikan identitas sosialnya, gaya hidupnya dan keamanan lingkungannya. Bahkan tak jarang pemukiman seperti ini juga memakai alat pengaman berupa portal untuk membatasi lalu lintas, satuan pengaman (satpam), hingga alat canggih semacam CCTV (Close Circuit Television) untuk menunjukkan eksklusifitas mereka.

Disadari atau tidak, dalam konteks kota, pemagaran seperti ini merupakan bentuk privatisasi ruang yang memicu fragmentasi kota dan disintegrasi sosial, berimplikasi pada konflik yang lebih luas. Informasi umum yang menunjukkan bahwa kriminalitas kota (urban crime) berkorelasi dengan munculnya pemukiman berpagar tinggi sudah seharusnya dikoreksi sebagai upaya untuk membongkar dan mengkonstruksi kembali berbagai nilai untuk kehidupan yang lebih baik.

Kota yang bermartabat seharusnya tidak berkutat kepada segi-segi artistik semata, tetapi berbagai hal yang terkait secara konseptual bahkan dalam lingkungan yang lebih besar lagi yaitu kultural.

Kota Banda Aceh kini sangat terlihat sebagai kota yang memaksakan diri, padahal mengalami modernitas secara konseptual saja belum, malah yang terjadi adalah euforia aktualisasi diri dan memunculkan pendobrakan yang bersifat “perayaan”. 

Maka itulah kenyataan yang harus dihadapi. Modernitas yang ada belum sepenuhnya terserap esensialnya, maka jangan berharap fragmentasi yang ada akan menjamah segi-segi konseptual atau pun kultural ke-Acehan.


0 komentar:

Posting Komentar