Berharap “Kewajaran” Pada Perkembangan Gampong. Mungkinkah?

-->
Leupah lé ka program trök u gampong, tapi peue nyang kana hase? Coba lihat intensifikasi pertanian dengan paket-paket subsidi pemerintah, dari kredit dengan bunga rendah, bibit unggul, pestisida, pupuk dan lain-lain; Hanya petani yang memiliki tanah yang luas (ureung kaya gampong), yang menjadi lebih bisa berkembang, ketimbang petani yang sehari-harinya memang bergelut dengan lumpur. Jadi bisa dikatakan bahwa hanya beberapa elit gampong yang segera tumbuh menjadi agen pembangunan di gampongnya – yang lain, tidak. Ureung kaya gampong-lah yang sesungguhnya diuntungkan dengan skema pembangunan yang ada.


Asumsi dasar dari program yang dilaksanakan di gampong sering kali berorientasi kepada faktor teknis, seakan-akan ada pembenaran bahwa kelangkaan pangan dan stagnasi sektor pertanian dalam memproduksi pangan disebabkan oleh faktor teknis. Dengan demikian, maka gampong harus menerima migrasi teknologi dan menyingkirkan teknologi-teknologi lokal. Akibatnya, lapangan kerja bagi rakyat di gampong menjadi menyempit.

Pertanyaannya adalah; apakah pembangunan gampong yang demikian dapat memperkuat rakyat di gampong dan meningkatkan langkah perbaikan bagi kehidupan mereka? Bukankah realitas seperti itu hanya lebih dapat dipandang sebagai upaya menempatkan gampong hanya sebagai basis logistik stabilitas politik kota?

Pembangunan daerah yang selalu mengedepankan pertumbuhan ekonomi, ternyata juga telah mengabaikan pemerataan, sehingga gagal dalam mendorong laju perkembangan gampong. Buahnya adalah kemiskinan dan kesenjangan yang disembunyikan dengan data-data palsu, seakan-akan pembangunan yang dilaksanakan selama ini telah mengurangi jumlah mereka yang melarat.

Fakta di atas, telah membawa implikasi yang luas terhadap terjadinya pemerasan yang berlebihan yang pada ujungnya semakin memperlemah posisi gampong pada keterbelakangan. Memeras kekayaan alam yang ada di gampong, sementara asset dan sumber daya gampong lebih banyak pergi ke luar. Ini tidak menjadikan warga gampong menjadi lebih maju, tetapi sebaliknya. Rakyat gampong mengalami serba kekurangan dalam kelimpahan sumber daya alamnya. Tiköh mate lam kröng padé.

0 komentar:

Posting Komentar