Hari Bumi, Sebuah Refleksi

-->
Bagi aktivis lingkungan hidup, hari bumi merupakan salah satu agenda rutin yang dirayakan setiap pertengahan tahun. Kecemasan terhadap dampak degradasi lingkungan hidup telah membawa manusia pada suatu kesadaran tentang pentingnya pelestarian alam.

Akan tetapi, perbedaan visi dan kepentingan seringkali menempatkan masalah ini dalam figura yang problematis. Kepentingan ekonomi yang berorientasi jangka pendek dari golongan tertentu masih dipertentangkan dengan kepentingan pelestarian ekologi. 

Akibatnya, agenda pelestarian alam yang berdimensi jangka panjang seringkali terabaikan.
Lalu bagaimana sebenarnya merefleksikan secara tepat peringatan hari bumi agar bisa memberi warna yang menarik pada isu-isu kerusakan alam. Apakah hari bumi yang sering bersifat perayaan telah direfleksikan kedalam pikiran dan tingkah laku kita yang merayakannya?

Sangat menarik apa yang disampaikan teman Andri Sofda dalam blognya, “jadilah individu yang peduli. Memperingati hari bumi bukanlah semata pada tingkat kegiatan seremonial semata, namun harus kita maknai arti pentingnya bentuk kepedulian kita dalam kehidupan sehari-hari. berpartisipasi dalam even-even serupa bukan berarti kita telah amat peduli pada planet bumi ini, karena ideologi sekelompok orang atau individu-individu itu akan tercermin dari kesehariannya.”

Selamat HARI BUMI, semoga kita tidak terjebak dalam jaring nihilisme yang bersifat ‘perayaan saja.’ Sebuah refleksi yang penting untuk dimaknai oleh penghuni bumi.

Komunitas Berpagar Tinggi

Ada sesuatu yang sedang berlangsung di kota ini. Eksistensi yang tak rapi, kontras dan Janggal. Perumahan baru yang berpagar ataupun perubahan dari Gampong kota menjadi komunitas Gampong berpagar tinggi ternyata telah menjadi sebuah kecendrungan untuk mendefinisikan identitas

Berharap “Kewajaran” Pada Perkembangan Gampong. Mungkinkah?

-->
Leupah lé ka program trök u gampong, tapi peue nyang kana hase? Coba lihat intensifikasi pertanian dengan paket-paket subsidi pemerintah, dari kredit dengan bunga rendah, bibit unggul, pestisida, pupuk dan lain-lain; Hanya petani yang memiliki tanah yang luas (ureung kaya gampong), yang menjadi lebih bisa berkembang, ketimbang petani yang sehari-harinya memang bergelut dengan lumpur. Jadi bisa dikatakan bahwa hanya beberapa elit gampong yang segera tumbuh menjadi agen pembangunan di gampongnya – yang lain, tidak. Ureung kaya gampong-lah yang sesungguhnya diuntungkan dengan skema pembangunan yang ada.


Asumsi dasar dari program yang dilaksanakan di gampong sering kali berorientasi kepada faktor teknis, seakan-akan ada pembenaran bahwa kelangkaan pangan dan stagnasi sektor pertanian dalam memproduksi pangan disebabkan oleh faktor teknis. Dengan demikian, maka gampong harus menerima migrasi teknologi dan menyingkirkan teknologi-teknologi lokal. Akibatnya, lapangan kerja bagi rakyat di gampong menjadi menyempit.

Pertanyaannya adalah; apakah pembangunan gampong yang demikian dapat memperkuat rakyat di gampong dan meningkatkan langkah perbaikan bagi kehidupan mereka? Bukankah realitas seperti itu hanya lebih dapat dipandang sebagai upaya menempatkan gampong hanya sebagai basis logistik stabilitas politik kota?

Pembangunan daerah yang selalu mengedepankan pertumbuhan ekonomi, ternyata juga telah mengabaikan pemerataan, sehingga gagal dalam mendorong laju perkembangan gampong. Buahnya adalah kemiskinan dan kesenjangan yang disembunyikan dengan data-data palsu, seakan-akan pembangunan yang dilaksanakan selama ini telah mengurangi jumlah mereka yang melarat.

Fakta di atas, telah membawa implikasi yang luas terhadap terjadinya pemerasan yang berlebihan yang pada ujungnya semakin memperlemah posisi gampong pada keterbelakangan. Memeras kekayaan alam yang ada di gampong, sementara asset dan sumber daya gampong lebih banyak pergi ke luar. Ini tidak menjadikan warga gampong menjadi lebih maju, tetapi sebaliknya. Rakyat gampong mengalami serba kekurangan dalam kelimpahan sumber daya alamnya. Tiköh mate lam kröng padé.

Puga Gampong deungon Martabat

-->
Membangun gampong, lagey cet langet. Pembangunan gampong seolah-olah telah menjadi instrumen penting dengan harapan membawa dampak luas pada kehidupan masyarakatnya. Padahal, proses pembangunan gampong yang tengah berjalan pada kenyataannya tidak menjadikan gampong berubah dan berkembang menjadi lebih baik, malah sebaliknya – tak bermakna.