Feature Cause

Donasi

Hutan Wakaf

Tindakan konservasi secara langsung melalui pembelian lahan kritis. Diperuntukkan untuk membangun hutan yang berfungsi secara ekologis, baik sebagai sumber mata air, maupun sebagai penyerap karbon, tempat bersarangnya burung-burung, lebah madu, primata dan species lainnya

Donate Now
Merchandise

T-Shirt

Donasi

Merchandise ini adalah bagian dari fundraising untuk mendukung inisiatif konservasi Hutan Wakaf di Aceh disamping pengumpulan dana tunai

Buy Now
Feature Cause

Donasi

Hutan Wakaf

Tindakan konservasi secara langsung melalui pembelian lahan kritis. Diperuntukkan untuk membangun hutan yang berfungsi secara ekologis, baik sebagai sumber mata air, maupun sebagai penyerap karbon, tempat bersarangnya burung-burung, lebah madu, primata dan species lainnya

Donate Now
Feature Cause

Donasi

Hutan Wakaf

Tindakan konservasi secara langsung melalui pembelian lahan kritis. Diperuntukkan untuk membangun hutan yang berfungsi secara ekologis, baik sebagai sumber mata air, maupun sebagai penyerap karbon, tempat bersarangnya burung-burung, lebah madu, primata dan species lainnya

Donate Now

bercerita tentang hutan, Mengedarkan Komunike

  • Mengedarkan komunike

  • Refleksi peristiwa

  • Membongkar mitos-mitos

  • Inisiatif konservasi

  • Donasi publik

Official Blog

Pohon

Kita adalah cerita yang belum jadi. Dan karena itu, kita perlu menyerahkan keringat pada lantai bumi untuk menyelamatkan sekelompok burung yang terancam kematian karena ketiadaan buah, biji dan pohon.

Hutan yang sehat dan rimbun adalah rumah dan tempat mereka mencari makan. Dahannya menjadi tempat bercinta.

Semua terkait. Burung pada buah, buah pada pohon, pohon pada air, air berteduh pada lumut, lumut pada hujan, hujan pada air.

Di hutan, ranting adalah tangkai waktu.

Yang kering akan patah sebelum kematian yang pasti.

Kita menanam pohon agar di masa depan kesulitan digantikan kemudahan. Agar tak ada tragis.

| Afrizal Akmal 
| Gambar: Sketsa hutan wakaf Zul M S.


T-Shirt: Iwan Podol

Iwan Podol yang memiliki nama asli Ridwan Setiawan adalah salah seorang yang paling mengetahui, dihormati dan sangat langka untuk ahli species badak di dunia. Atas dedikasi itulah kami (volunteer inisiatif hutan wakaf) merilis t-shirt khusus edisi donasi hutan wakaf bertema Abah Badak Indonesia dengan gambar siluet Iwan Podol.

Iwan Podol lahir di Labuan Banten pada tanggal 28 April 1969. Sejak kecil ia tertarik dengan kegiatan alam terbuka dan juga mempelajari ilmu biologi secara otodidak. Ia berjuang untuk terus maju, baik dalam berpikir dan bertindak.

Selepas pendidikan Sekolah Menengah Atas, Iwan Podol  menyelami ragam pekerjaan, antara lain sebagai kenek bus Labuan CN Murni. Karir di dunia penyelamatan lingkungan hidup ia mulai di era 1990 dengan bergabung menjadi staff lapangan untuk survey dan monitoring Badak Jawa di WWF - Indonesia Ujung Kulon Programme. Sejak itu Iwan terus aktif dan berjuang di konservasi Badak Jawa.

Saat ini  Iwan Podol merupakan ahli dibidang satwa, khususnya Badak Jawa di Taman Nasional Ujung kulon. Iwan dengan setia mendedikasikan dirinya di konservasi badak. Dari beberapa publikasi terlihat bahwa ia sangat skill dibidang penelitian Badak Jawa, diantaraya monitoring dan inventarisasi pencarian badak dengan ragam metode, inventarisasi badak hingga camera trap. Ia sangat mengetahui berbagai tumbuhan pakan badak.

Tidak melulu pada Badak Jawa, tetapi Iwan Podol terus meneliti diluar pulau jawa.  Ia membantu meneliti Badak Sumatra di berbagai kawasan hutan di Indonesia seperti di hutan Aceh, hutan Kalimantan Barat dan di  Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Berbicara Iwan Podol berati kita berbicara tentang konservasi badak di Indonesia.
Apresiasi yang tinggi untuk Iwan Podol - Abah Badak Indonesia.

| Naskah dan photo: Aceh Indiephoto
| Editor: Afrizal Akmal


Sosok: Bahlias Putra Gayo

"Hutan adalah sarang ilmu pengetahuan."
Itualah prinsip dan dedikasi Bahlias Putra Gayo. Ia sering dipanggil dengan sebutan Babe, yang merupakan guru, mentor dan sahabat, beliau lucu dan seringkali suka bercanda. Tetapi sangat serius saat melakukan ploting tanaman untuk studi fenology. Beliau adalah ahli fenology (tanaman hutan) dan primata hutan Aceh.

Soal fisik dan tenaga; di usia beliau yang sudah tua masih sangat tangguh dan bersemangat. Ibarat mobil VW lambat tapi pasti dan tidak pernah capek dalam pendakian. Ya, ibarat mesin diesel aja ini babe. Makin tua makin jadi.

Pria Gayo yang lahir di Kutacane 62 tahun yang lalu ini mendedikasikan ilmunya di hutan dalam bidang fenology (ilmu tanaman hutan) dan primata. Bekerja di hutan Aceh sejak tahun 1987 hingga sekarang. Hampir seluruh hutan Aceh telah ditelitinya.

Aktivitas harian beliau lainnya adalah sebagai petani coklat dan peternak ikan mas di kampung halamannya, Kutacane, Aceh Tenggara. 

Apresiasi yang tinggi untuk Babe Bahlias.





| Narasi dan Photo: Aceh IndiePhoto
| Editor: Afrizal Akmal

Harmoni

Selalu. Rasa yang sama sejak dulu; dan sekarang ketika berada di hutan umurku bukan 43, tapi 34. Mungkin dengan gairah yang berbeda. Ya, energi dibutuhkan untuk ide besar.

Dan di landskap hutan selalu ada sejarah. sederet panjang tanda tanya. Kenapa hutan kini hanya tinggal sisa-sisa.

Kapitalisme dibalik konsesi halal telah merusak semuanya, hingga hutan itu mereka tinggalkan dalam keadaan rapuh. Bukan iklim yang merapuhkan materi-materi yang membentuknya. Bukan juga wabah. 

Ia memang sudah tak mampu bertahan begitu saja. Pelan-pelan sirna bila di sana tak ada kekayaan sosial; harta dan pemikiran masyarakatnya yang secara penuh keikhlasan mau merawat dan membangun hutan kembali.

Tapi mungkin hutan nasibnya benar-benar cuma tergantung pada negara? absolut?
Kalau begitu maka negara sedang sendirian dalam keasyikannya. Bila negara seenaknya, maka tak ada penyangga sosial lain. Tak ada komunitas sosial yang mandiri; yang melahirkan kekuatan yang memperkukuh keberadaan hutan.

Hutan. adakah sebuah tempat yang damai, tentram? Atau ia hanya sebuah tempat. Artinya tanpa batas yang tegas antara hutan dengan di luar hutan.

Jangan-jangan itulah yang terjadi dalam sejarahnya dan berlanjut hingga kini. Ketika kapitalisme masuk ke relung-relungnya dari luar hutan, ia membawa perilaku dan nilai-nilai yang merusak; eksploitatif semata. Perilaku menghancurkan yang merembes ke dalam masyarakat di sana; di sekitar hutan.

Itukah barangkali riwayat hutan yang hilang di sini. Menghancurkan semua harmoni kehidupan di dalamnya.

Afrizal Akmal