Inisiatif

Donasi

Hutan Wakaf

Tindakan konservasi secara langsung melalui pembelian lahan kritis. Diperuntukkan untuk membangun hutan yang berfungsi secara ekologis, baik sebagai sumber mata air, maupun sebagai penyerap karbon, tempat bersarangnya burung-burung, lebah madu, primata dan species lainnya

Donate Now
Rafting

Sungai

Jantho

Menikmati serunya Rafting di Sungai Jantho sekitar Hutan Wakaf setelah menanam pohon

Donate Now
Rafting

Sungai

Jantho

Menikmati serunya Rafting di Sungai Jantho sekitar Hutan Wakaf setelah menanam pohon

Donate Now
Merchandise

T-Shirt

Donasi

Merchandise ini adalah bagian dari fundraising untuk mendukung inisiatif konservasi Hutan Wakaf di Aceh disamping pengumpulan dana tunai

Buy Now
Inisiatif

Donasi

Hutan Wakaf

Tindakan konservasi secara langsung melalui pembelian lahan kritis. Diperuntukkan untuk membangun hutan yang berfungsi secara ekologis, baik sebagai sumber mata air, maupun sebagai penyerap karbon, tempat bersarangnya burung-burung, lebah madu, primata dan species lainnya

Donate Now
Inisiatif

Donasi

Hutan Wakaf

Tindakan konservasi secara langsung melalui pembelian lahan kritis. Diperuntukkan untuk membangun hutan yang berfungsi secara ekologis, baik sebagai sumber mata air, maupun sebagai penyerap karbon, tempat bersarangnya burung-burung, lebah madu, primata dan species lainnya

Donate Now
Inisiatif

Donasi

Hutan Wakaf

Tindakan konservasi secara langsung melalui pembelian lahan kritis. Diperuntukkan untuk membangun hutan yang berfungsi secara ekologis, baik sebagai sumber mata air, maupun sebagai penyerap karbon, tempat bersarangnya burung-burung, lebah madu, primata dan species lainnya

Donate Now

bercerita tentang hutan, Mengedarkan Komunike

  • Mengedarkan komunike

  • Refleksi peristiwa

  • Membongkar mitos-mitos

  • Inisiatif konservasi

  • Donasi publik

Official Blog

Konspirasi Wakaf

Gurita Kebijakan Tak Ramah Lingkungan

Pagi Rabu 14 November 2018 kami berlima bergerak ke arah timur kota Banda Aceh menuju Jantho. Sepanjang perjalanan berkisah soal bagaimana menghidupkan semangat generasi negeri ini untuk berbuat yang terbaik bagi alam. Juga soal carut marut malmanagemen dan malfungsi berbagai otoritas negri yang seharusnya merawat tanoh indatu ini dengan penuh kasih dan dedikasi. Namun sebaliknya, justru yang terjadi pelayanan lebih jenderung kepada para pemilik modal, bukan rakyat, terbukti dalam banyak hal kebijakan-kebijakan yang lahir begitu kering, tak berjiwa. Kami hanya bisa tertawa sambil saling menyadari bahwa harapan kami bisa saja wujud tetapi tidaklah mudah. 

Disela pembicaraan yang ngalor ngidul tentang ragam hal, Indra protes, “Jangan bicara pejabat korupsi pagi pagi lah, hilang semangat kita nanti,   ayo makan pisang dulu...ujar Indra kepada kami saat  perjalanan pagi itu.  Ya saya memang sempat membeli sesisir pisang sebelum melanjutkan perjalanan tadi, sekedar buat penganan mengisi lambung.  Ungkapan indra memancing derai tawa, kami berlima seperti sedang menghibur diri dengan ungkapan konyol itu. Sementara dari music player  mobil, Roy Jeconiah dengan lantang menyanyikan lirik “........ Bungaku..kudengar panggilanmu..Bungaku.. akupun rindu, Maafkan ku harus pergi, Mengejar semua mimpi yang berarti... hayati penting artimu bagiku Tiada yang dapat menggantikan hadirmu ........”

Menanam di Hutan Wakaf


Sesampai di seputaran kota Jantho kami melihat ada kegiatan tak biasa, jalan jalan sedang diperbaiki, tumpukan tanah berlumpur di kiri badan jalan, ada beberapa mobil pemerintah dengan stiker sebuah even, dan bus pengangkut peserta even yang berpapasan dengan kendaraan kami. Persiapannya menunjukkan acara tersebut belum sepenuhnya rampung.    Kami suka melihat Jantho lebih ramai sedikit dari biasanya.  Tak ada hal baru yang bisa diceritakan, sementara gedung perkantoran Kabupaten Aceh Besar nan gagah bak bangunan-bangunan artistik di film film Bolywood tetap bikin leher memaling kekiri, memperhatikan tiap detail dan warnanya, hanya sebatas itu saja, gedung yang sangat besar dan mewah. Terpaksa harus bilang Wow!

Hutan wakaf terdiri dari 4 persil tanah, total lahan seluas 4 hektar. Satu kawasan berada di perbukitan, dengan kondisi lahan 70 persen masih merupakan lahan kritis, sisanya telah ditumbuhi pohon-pohon pionir. Lokasi lainnya ada di sebelah utara bersisian langsung dengan aliran sungai Krueng Aceh. Saya tak beruntung hari ini, tak cukup waktu turun ke sungai, karena kami akhirnya sepakat hanya berada di titik pertama saja. Menghabiskan waktu seharian disana dan berhasil menanam sekitar 100 polybag pohon-pohon keras dan buah sebagai penambah vegetasi Hutan Wakaf. 

Sepanjang perjalanan menuju lokasi, kami disambut oleh alam yang ramah, sisa-sisa hujan semalam melahirkan alur-alur kecil yang seolah bernyanyi riang. Aliran sungai kecil di kiri jalan seperti memacu semangat kami untuk segera sampai. Mobil tak dapat masuk karena kondisi jalan berbatuan dan licin, Akmal Senja, Chalil, Indra dan Tom meletakkan semua benih ke atas terpal hitam, saya mendapat jatah membawa satu ransel berisi kamera dan perlengkapan pribadi serta sekantong bahan makanan, kami berjalan kaki menyusuri perbukitan lebih kurang 1 km jauhnya dari jalan raya menuju Hutan Wakaf.



Pak Eko dan Lebah Madu dari Hutan Wakaf

Sebelum memasuki Hutan wakaf, kami terlebih dahulu “lapor” kerumah Pak Eko, beliau  adalah penjaga atau juru kunci hutan wakaf.  Peran  Pak Eko sangat penting, mengingat jarak hutan wakaf dari mayoritas para founder dan donatur yang tidak dekat. Pak eko bertugas mematau kondisi hutan wakaf, melihat apa saja hal-hal yang kira kira mengganggu jalannya kerja penanaman, karena kawasan hutan wakaf juga rawan terjadi bencana kebakaran apabila musim kemarau tiba, selain itu juga adanya aktifitas peternakan tradisional diseputaran kawasan Hutan Wakaf sering mengakibatkan pohon-pohon yang sudah ditanam kembali dirusak. 

Kesehariannya Pak Eko bertani, bercocok tanam padi dan palawija di sekitar rumahnya. Pak Eko juga tergabung dalam komunitas penjaga hutan dan sumber air di desanya, kawasan tempat tinggal Pak Eko berlatar pegunungan bukit barisan yang merupakan sumber air sawah-sawah di kampung mereka. Adalah Almarhun Jafar, ayah mertua Pak Eko seorang pelopor pelestarian hutan dan sumber air di kawasan hutan Jantho. Atas kegigihan beliau menjaga dan mengkampanyekan kelestarian hutan sehingga sawah-sawah disekitar desa mereka telah kembali berfungsi. Almarhum Jafar sekaligus merupakan tokoh yang ikut mengapresiasi para founder Hutan Wakaf untuk berjuang mewujudkan kerja mulia ini. 

Sejak beberapa tahun yang lalu sawah-sawah di kampung ini sempat berhenti ditanami, karena berbagai alasan. Kini warga sudah kembali turun kesawah, kami akan menjaga hutan dan sumber air kami disini, sampai akhir hayat  dikandung badan, ujar pak eko.

Sementara manfaat lain hutan wakaf yang sudah nyata dirasakan pak Eko dan keluarga adalah mendapatkan lebah madu yang tumbuh diantara pepohonan dihutan wakaf. Pak eko menjual madu murni ini dengan harga 150 ribu perbotol. Pak eko menjaga kualiatas madu dan tidak mencampur dengan bahan apapun. Agar keaslian dan manfaat madu ini tetap terjaga. 

Pak Eko |  Juru Kunci penjaga Hutan Wakaf di Jantho
Saat memasuki kawasan Hutan Wakaf suasana langsung terasa beda. "Disini sudah tercipta iklim yang spesifik atau mikro. Oksigen yang dihasilkan pohon-pohon yang ada di area hutan ini mulai terasa sejuk, meskipun belum utuh sebagai sebuah iklim mikro dengan segala keterbatasan faktor-faktor yang ada. Udara jadi terasa lebih segar dari tahun sebelumnya. Mari kita nikmati karunia oksigen ini sepuas-puasnya", terang Akmal Senja pada teman-teman yang hadir.  

Pukul 11 lewat sedikit kami mencapai Hutan Wakaf,  benih kami angkat satu persatu melalui pintu pagar yang di buat seadanya, plang nama sudah berdiri, tapi belum ada satu huruf pun disana, nanti kita akan tuliskan ucapan selamat datang disini ujar Akmal. Dengan banyak bahasa tentunya, karena ramai pengunjung dari luar negri yang datang kesini, selain itu kita nanti juga akan membuat semacam statuta ( monumen ) buat para penyumbang dihutan wakaf. Karena ini milik bersama maka kita harus mencatat dan mengabadikanya sebagai sebuah wujud rasa terima kasih kita. Kata akmal lagi disela- sela mengangkut benih. 

Di lokasi yang kami masuki, tepat di dekat pintu gerbang, saya mencoba menghitung tegakan, ada sekitar 3 pohon dengan diamater sekitar 45 centimeter, lalu ada 10 lebih batang dengan ukuran tiang. Di sebelah agak ke barat daya, dipenuhi oleh tumbuhan rotan, lontar dan palem. Lantai hutan ditumbuhi rerumputan, jenis paku-pakuan, jamur dan lumut, saya senang menginjakkan kaki ke dasar hutan  yang basah,  tanah kekuningan yang becek menyerupai adonan mengingatkan saya pada sebuah scene pada novel Arundhati Roy, The God of Small Think, Roy menggambarkan kenangan tentang lumpur didasar sungai yang memasuki sela-sela jemari seperti odol yang dipencet dari tube nya. Daun-daun yang membusuk di dasar tanah membentuk semacam lantai yang lembut.  Warna kecoklatan dipadu dengan hijau muda pucuk rumput membuat suasana nyaman. Kami tak menghidupkan alat komunikasi, tempat ini terlalu mewah untuk diganggu dengan komunikasi dari dunia luar. 

Formasi Vegetasi Hutan Wakaf
Berbagai jenis bibit pohon yang kami angkut antara lain ada Mangga ( Kasturi), Jambu, Pala, Amorphophallus Titanium,   Asam Jawa, Jemblang, Nangka, Ficus sp, Eboni dan Petai.  Selain pohon-pohon yang kami bawa, dilokasi juga telah tumbuh pohon-pohon seperti Jabon, jambu-jambuan, gelempang, laban, pulai, lontar, rotan, kelayu, aren, berbagai jenis tanaman rumpun yang berkhasiat obat. Pohon-pohon ini merupakan pohon yang telah ada terlebih dahulu dan hasil penanaman yang lalu. 

Setidaknya sudah dilakukan penanaman lebih kurang dua ribu pohon di kedua lahan Hutan Wakaf.  Sedangkan di lahan ketiga dan keempat masih belum banyak penanaman.  Dari total bibit pohon yang ditanam diperkirakan hanya 40 persen pohon yang tumbuh, musim kering yang panjang merupakan faktor utama kurangnya daya tumbuh. "Sebuah pendekatan mekanis mungkin diperlukan dengan ragam modifikasi rekayasa tehnis", lanjut Akmal.

Kegiatan penanaman kali ini dilakukan bersama 3 orang perwakilan komunitas motor, yaitu Indra  dari Gabungan Aneuk Skuter Aceh (GASA), Chalil dari Skuteris Traveler Aceh ( S-Teh), Tom dari Honda Klasik Aceh ( HoKA).  Kunjungan ke Hutan Wakaf kali ini selain melakukan penanaman, kegiatan juga dilengkapi oleh kegiatan identifikasi dan pencatatan formasi vegetasi di Hutan Wakaf.

Amorphophallus titanum di Hutan Wakaf




Selain berbagai vegetasi yang ada disana, Hutan wakaf juga menjadi tempat tinggal dan sumber pakan satwa. Terutama untuk jenis burung dan primata. Beberapa jenis pohon menghasilkan buah berasa manis dengan warna mencolok yang dapat menarik perhatian satwa burung, seperti pohon berbatang tinggi dengan buah-buah kecil, Karang Munteng, Beke.

Peran hutan bagi ketersediaan top soil (humus) sangatlah penting. Kesuburan tanah sangat tergantung pada ketersediaan  humus. Top soil terbentuk dari serasah-serasah yang jatuh,   membusuk lalu membentuk lapisan humus, ini merupakan proses alamiah yang terjadi secara terus menerus. Selain itu akar pohon juga berperan sebagai penyimpan air, penyebaran benih yang dibantu oleh satwa sebagai polinatornya.

Idealnya di masa yang akan datang Hutan Wakaf menjadi hutan heterogen, layaknya hutan hujan di Indonesia. Skema nya mengikuti pola tutupan hutan yang terdiri dari canopy, subcanopy, understorey, dan ground layer. Apabila telah mencapai kondisi seperti ini maka segala kebaikan hutan akan berfungsi kembali, dan tentu akan membawa mafaat bagi umat manusia nantinya. 

Hutan wakaf terdiri dari beberapa zona, yaitu Pohon inti, zona khusus infiltrasi ( chactmen area) dan zona  pakan bagi satwa.  Selain itu sumber pangan dari pohon buah-buahan yang ada disana dapat di manfaatkan oleh masyarakat, berbagai jenis tanaman obat yang hidup secara tumpang sari disela-sela pohon, juga berbagai jenis tanaman  rambat atau rumpun yang bisa diolah untuk kebutuhan rumah tangga dan kerajinan tangan. Semua potensi ini dimasa yang akan datang akan bernilai manfaat yang tinggi buat alam dan manusia di sekitar Hutan Wakaf. 

Dalam proses menanam diupayakan metode yang tepat untuk mensiasati agar benih pohon dapat tumbuh,  penanaman terbanyak dilakukan saat musim penghujan, setiap pohon diberi tanda ajir ( tongkat kayu), lalu di lahan yang tinggi atau curam diupayakan hanya menanam pohon-pohon pionir saja , dan jenis lain yang mudah tumbuh, misalnya shorgum. Untuk kawasan rendah, berawa, akan dikembangkan pandan,  untuk kawasan lereng diperuntukkan bagi pohon-pohon seperti beringin dan aren, serta bambu di pinggiran sungai. 

Setelah kawasan ini kembali tumbuh hijau dan mencapai kondisi ideal akan menciptakan iklim mikro sebagai penyedia oksigen, penyerapan karbon dioksida meningkat, pengikat air, pencegah longsor, menjadi rumah satwa khususnya burung dan lebah, serta akan meningkatkan curah hujan. 

Ada satu cita-cita mulia lainnya yang ingin diwujudkan di Hutan Wakaf, yaitu mengembangkan kembali tanaman-tanaman lokal yang bernilai tinggi namun telah sulit didapatkan di habitat aslinya. Salah satunya mengupayakan kembali menanam pohon Kamper (barus) dalam bahasa lokal disebut Geuruvai (aceh).  Ini adalah jenis pohon yang endemik di Asia dan sudah sejak lama dikenal memiliki khasiat tinggi terutama untuk bahan dasar pembuatan kapur barus. Bahkan dalam catatan  sejarah dinyatakan bahwa hubungan bangsa mesir dengan  nusantara disebabkan oleh kebutuhan mereka membeli barus sebagai bahan pengawet mumi. Selain untuk kamper pohon barus juga digunakan untuk tapak tiang rumah. 



Melanjutkan Tradisi Lama

Tata kelola hutan dan lingkungan yang kian hari kian memiriskan adalah hal yang menjadi perhatian banyak pihak. Terutama orang-orang yang memiliki kepedulian atas kelesatrian hutan kita. Kawasan Banda Aceh yang menggantungkan sumber kehidupannya dari Krueng Aceh yang berhulu di hutan Jantho dan kaki Seulawah telah mengalami persoalan-persoalan ekologis yang parah. Apabila tidak segera dilakukan upaya pembenahan serius akan berakibat pada menurunnya debit air dan rendahnya kualitas lingkungan hidup. 

Kondisi inilah yang menggerakkan para founder atau inisiator hutan wakaf untuk melakukan sebuah "konspirasi wakaf", membangun kesadaran bersama dengan memulai memberanikan diri membuka rekening bersama, menggalang dana publik untuk membeli tapak demi cikal bakal Hutan Wakaf.  

Mengapa memilih Wakaf? Ini pertanyaan yang sangat penting di jawab. Tradisi wakaf dalam sejarah Aceh, sudah sangat lama berkembang, “Misalnya Blang Padang, beberapa ruas jalan dan lapak kota di Banda Aceh sebagian besar adalah wakaf rakyat dan Sultan”, ujar Akmal Senja.

Ide dasar nya bereferensi pada sejarah sumur Ustman Bin Affan. Berabad-abad sesudah diwakafkan, telah pula terjadi beberapa kali peperangan, tetapi sumur tersebut tetap bertahan sampai saat ini.  “Peperangan yang dahsyat di jazirah itu dalam beberapa era tidak membuat sumur wakaf itu hilang ditelan zaman”, ini bisa terjadi karena ada yang menggerakkan, ada yang menjaga dan ada orang-orang yang selalu membersihkan.  

"Ketika kita mengucapkan akad, bahwa tanah dan hutan ini telah kita wakafkan, maka sebenarnya kita telah mengembalikan aset ini kepada kepemilikan hakiki Allah azzawajalla", sambung Akmal menutup kisah.  

Semburat sore menghantar kami pulang, semua benih telah habis ditanam. Kami menghabiskan dua kali waktu sholat di Hutan Wakaf hari ini, Saya, Indra, Chalil, Tom dan Akmal Senja masih tetap berdiskusi sepanjang perjalanan seolah tak merasakan kelelahan seharian ini. Kalau menanam pasti kami selalu senang ujar mereka. Kalau kita suntuk dan merasa banyak tantangan di luar maka jangan lupa makan pisang ya, kelakar teman-teman yang ditutup tawa diujung pertemuan.   | Sri Wahyuni |




Daftar Istilah
Pionir: Pohon pohon yang daya tahannya tinggi sehingga bisa bertahan dalam cuaca panas dan air terbatas. tumbuhan ini menjadi stater awal pada suksesi hutan secara alami. 
Silvika: adalah ilmu yang mempelajari sejarah hidup dan ciri-ciri umum pohon beserta tegakan hutan dalam kaitannya dengan faktor-faktor lingkungan. 
DAS: Daerah Aliran Sungai
Replanting: Penanaman kembali
Ustman Bin Affan: Salah seorang khalifah setelah wafatnya Rasulullah Muhammad, SAW

Dr. Fachruddin Mangunjaya Presentasikan Hutan Wakaf di Universitas Indonesia.

Dr. Fachruddin Mangunjaya mendapat kehormatan untuk menjadi salah satu narasumber FGD yang membahas tentang Hutan Wakaf Aceh. Presentasi berlangsung di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Wakaf Hutan menjadi bahasan menarik karena ada inovasi baru dalam wakaf dan upaya konservasi. Legal aspek kegiatan ini perlu dilakukan sementara secara syariat, upaya ini dianggap sebuah upaya menuju maslahat untuk mendukung kemanusiaan, mencegah bencana dan mendukung keberlanjutan yang sesuai dengan maqasid syariah.

| Photo: Universitas Indonesia | 



Fakultas Hukum Universitas Indonesia Riset Hutan Wakaf Aceh


Wakaf yang diperuntukkan bagi lingkungan hidup ternyata memiliki potensi yang nyata dan cukup besar dalam rangka perbaikan lingkungan hidup.

Renungan Alam

Pagi tadi - Minggu, 15.07.18, Metro TV menyiarkan tentang ancaman gagal panen persawahan Aceh Barat, dampak kesulitan air di sana. Pertengahan 2017, Aceh Besar juga mengalami hal serupa. Tersirat kita kita gagal memberdayakan air untuk ragam keperluan.

Di sisi lain kondisi lahan gersang terbiarkan tanpa tumbuhan sebagai penahan (unsur perlambatan) air agar tidak cepat terbuang. Salah satunya terlihat di kawasan perbukitan Blang Bintang hingga Krueng Raya, Aceh Besar.

Menariknya, terdapat lekukan berupa lembah-lembah kecil dalam jumlah besar di kawasan gersang itu. Secara visual, lembah-lembah kecil itu berpotensi memperlancar air hujan terbuang ke laut.

Idealnya, air hujan yang turun pada waktu tertentu tidak boleh terbuang sebelum berproses di daratan, seperti menyusup ke dalam tanah, menguap di daratan, dan lain sebagainya.

Untuk melakukan upaya 'me-lama-kan' tugas air di daratan tidaklah terlalu sulit. Modal utamanya hanyalah 'kepedulian' dan 'kesediaan'.

Kepeduliaan dalam artian menyimpulkan kondisi negatif yang terjadi, sedangkan kesediaan boleh dipahami sebagai penyiapan sumberdaya untuk berbenah.

Upaya pembenahan dapat dilakukan dengan cara-cara sederhana yang tidak membutuhkan pemikiran terlalu rumit dan biaya yang relatif besar. Artinya, persoalan tidak sulit untuk diatasi dan tidak akan selesai dengan keluhan dan hujatan.

Bravo Hutan Wakaf....

| Kiriman naskah: Razuardi (Essex) Ibrahim |