Feature Cause

Donasi

Hutan Wakaf

Tindakan konservasi secara langsung melalui pembelian lahan kritis. Diperuntukkan untuk membangun hutan yang berfungsi secara ekologis, baik sebagai sumber mata air, maupun sebagai penyerap karbon, tempat bersarangnya burung-burung, lebah madu, primata dan species lainnya

Donate Now
Merchandise

T-Shirt

Donasi

Merchandise ini adalah bagian dari fundraising untuk mendukung inisiatif konservasi Hutan Wakaf di Aceh disamping pengumpulan dana tunai

Buy Now
Feature Cause

Donasi

Hutan Wakaf

Tindakan konservasi secara langsung melalui pembelian lahan kritis. Diperuntukkan untuk membangun hutan yang berfungsi secara ekologis, baik sebagai sumber mata air, maupun sebagai penyerap karbon, tempat bersarangnya burung-burung, lebah madu, primata dan species lainnya

Donate Now
Feature Cause

Donasi

Hutan Wakaf

Tindakan konservasi secara langsung melalui pembelian lahan kritis. Diperuntukkan untuk membangun hutan yang berfungsi secara ekologis, baik sebagai sumber mata air, maupun sebagai penyerap karbon, tempat bersarangnya burung-burung, lebah madu, primata dan species lainnya

Donate Now

bercerita tentang hutan, Mengedarkan Komunike

  • Mengedarkan komunike

  • Refleksi peristiwa

  • Membongkar mitos-mitos

  • Inisiatif konservasi

  • Donasi publik

Official Blog

Cerita Berjumpa Harimau

Catatan Fachruddin Mangunjaya

Setidaknya dalam dua bulan ini saya dipertemukan dengan dua peristiwa berdekatan dengan harimau liar. Pertama di hutan wakaf Aceh, pertama kalinya saya mencium bau harimau dan bekas foot print baru, disaksikan bersama Akmal Senja, bulan Juni lalu.

Dan bulan Juli ini, datuk belang harimau malaya, juga mempertujukkan lenguhannya ketika kami berjalan di hutan Lindung Tasik Kenyir, Terengganu Malaysia, di dengarkan bersama Akmal Arif (namanya Akmal juga), terima kasih saya mendapatkan pengalaman berharga. Harimau di dua kawasan menunjukkan isyarat keberadaannya.




Show Window Hutan Wakaf



"Mudah-mudahan ini akan menjadi show window, menjadi contoh. Orang akan melihat ini sebagai inisiatif yang positif dan akan diikuti", | Fachruddin Mangunjaya, 2017 |.

Skenario Dan Model Konseptual Hutan Wakaf

Hutan Wakaf adalah inisiatif konservasi berbasis wakaf. Sebuah inisiatif bersama yang awalnya berupa tim kecil dengan empat orang, sekarang telah berkembang menjadi groups. Tawaran konsep hutan wakaf ini berpeluang untuk diapresiasi baik secara ilmiah akademis maupun ilmiah aplikatif.

Untuk pilot project, dijadwalkan akan berlangsung 5 sampai 8 tahun, dengan penggalangan donasi publik. Empat orang telah bekerja volunteer sebagai koordinator. admin dan pengelola dana (fundraising) bagi program ini, dan yang lainnya mencurahkan jaringan serta finansialnya.

Misi
Konservasi secara langsung melalui pembelian lahan kritis. Diperuntukkan untuk membangun hutan yang berfungsi secara ekologis, baik sebagai sumber mata air, maupun sebagai penyerap karbon, ketersediaan buah-buahan dan tanaman obat, bahkan kayu untuk papan keranda, tempat bersarangnya burung-burung, lebah madu, primata dan species lainnya. Seterusnya akan diwakafkan dan disertifikatkan atas nama semua orang yang telah menyumbang.

Tujuan
Menjamin tersedianya sumber daya hutan bagi generasi di masa depan.

Model Konseptual
Pertumbuhan penduduk dan kepentingan kapital yang semakin tinggi akan lahan telah memberi tekanan yang lebih serius terhadap lahan yang seharusnya dikonservasi. Banyak status lahan berubah fungsi.

Ancaman utama terhadap hutan selama ini adalah konversi langsung untuk pembuatan pemukiman, jalan, perkebunan besar dan lainnya. Hektaran hutan yang dikelola negara sewaktu-waktu bisa saja dikonversi oleh rezim yang tengah berkuasa, apalagi dengan sebidang lahan yang dimiliki secara pribadi oleh masyarakat. Walau pun negara sebenarnya juga melarang konversi pada lahan-lahan tertentu, namun tidak ada jaminan bahwa rezim berikutnya tidak akan merubah aturan hukum yang telah ada.

Kondisi target kami terfokus pada lahan kritis dan lahan potensial. Jika lahan kritis dibiarkan dan tidak ada perlakuan perbaikan, maka keadaan itu tidak bermanfaat bagi ekologi, hidrologi dan ekonomi masyarakat. Sedangkan lahan potensial adalah lahan yang belum dimanfaatkan dan jika dikelola akan mempunyai nilai dan manfaat ekologi, hidrologi dan ekonomi yang besar.

Kedua kondisi target tersebut jika disediakan dan diperuntukkan bagi tersedianya sumber daya hutan untuk generasi mendatang melalui instrumen wakaf, pasti akan memberikan harapan yang lebih besar dalam merefleksikan pesan kearifan lingkungan, shadaqah jariyah, konservasi dan aspek rahmatan lil'alamin.

Hutan wakaf adalah salah satu tawaran dalam mencermati dinamika pengelolaan hutan yang selama ini secara faktual masih didasarkan pada pendekatan sekularistik dan ateistik. Padahal ada potensi besar yang berpeluang diakomodasi dalam masyarakat di tanah air yang dominan beragama Islam. 

Doktrin ekologis yang Islami adalah sebuah peluang untuk diterapkan, dengan harapan pelestarian hutan akan lebih mudah diterima dan tidak ditentang, dengan suatu keyakinan sosial komunitas muslim bahwa nilai dan motivasi spiritual menjadi dasar penerapan.
Sebuah inisiatif yang kami namakan "Hutan Wakaf" sedang dirancang dan dihadirkan secara nyata dalam pembangunan berkelanjutan. Instrumennya adalah pengelolaan berdasarkan prinsup kelestarian, dalam Islam disebut wakaf.

Urgensi wakaf berupa hutan adalah sebuah pertimbangan terhadap ancaman krisis lingkungan yang terus meningkat, terutama dampak dari deforestasi yang tak terkendali. Hal ini perlu mendapat perhatian lebih dari ummat Islam karena menyangkut upaya vital menjaga kelangsungan planet bumi dan penghuninya, baik untuk kehidupan yang tengah berlangsung, maupun untuk generasi mendatang.

Kegiatan dan Pengelolaan
Awalnya adalah pengumpulan dana seratus ribu rupiah per orang setiap bulannya, untuk membeli tanah dan membangun hutan di atasnya. Dalam perkembangannya, penggalangan dana publik menjadi lebih dinamis tanpa membatasi nominal.
Sumbangan atau konstribusi bagi hutan wakaf, bisa dikirim melalui: 

Bank Muamalat Indonesia, Cabang 241. 
Nomor Rekening Bersama 
(Joint account 'and'): 2410022467 
An. Azhar dan Afrizal Akmal.

Bila dana sumbangan telah terkumpul sebanding dengan harga lahan, maka dana sumbangan ini akan dicairkan serta akan dibelikan lahan seluas beberapa hektar untuk pilot project, seterusnya akan dibangun hutan di atasnya sebelum diwakafkan.
Untuk menjaga transparansi penggalangan dana ini, maka setiap bulannya atau minimal tiga bulan sekali akan dilampirkan print out rekening donasi melalui mail groups dan media sosial lainnya.

Secara khusus bergabung dalam diskusi seputar inisiatif ini, bisa mengirim permintaan invite ke email groups hutan wakaf melalui admin; hutanwakaf@gmail.com 
Milis hutan wakaf: https://groups.google.com/forum/#!forum/hutan_wakaf 
Kontak Kami: 081360200711

# Pada tanggal 8 Januari 2017, panitia persiapan lahan telah membeli 1 (satu) hektar lahan di Jantho, Aceh Besar; senilai 15.000.000 rupiah sebagai pilot project, untuk seterusnya akan dibangun hutan di atasnya sebelum diwakafkan.

Kreasi Hutan Wakaf


Catatan Razuardi ESSEX 


Tatkala konsep 'Hutan Wakaf' diusung, tahun 2012, oleh beberapa rekan relawan dibawah Sang Deklarator, Akmal Senja dan Aceh Indiphoto, relatif tiada bantahan. Kalaupun ada, bahasan hanya seputar teknis pelaksanaannya saja. 

Konsep itu terus berkembang dari aspek pengimplementasiannya, hingga saat ini relawan Komunitas Hutan Wakaf telah menanam ribuan pohon di berbagai tempat. Sasaran yang sedang menjadi perhatian sekarang, yakni suatu hamparan seluas 1 hektar di Jantho, Aceh Besar, yang dibeli dari sumbangan para donatur.

Konsep 'Hutan Wakaf' ini cukup sederhana, yakni dengan mengembalikan hak lingkungan melalui penanaman berbagai flora di atas lahan yang legal sebagai milik lingkungan. Tatkala keberadaan lahan telah termiliki oleh para pihak tertentu dan dalam kawasan itu pula dibutuhkan hamparan hijau terjaga maka Komunitas Hutan Wakaf berusaha mencari solusi agar dapat membebaskan lahan dimaksud sesuai kemampuan yang ada, agar dapat dihijaukan.

Kepemilikan lahan beserta flora di atasnya menjadi milik alam tanpa batas waktu, sementara jika didapati hasil dari hutan wakaf itu, sepenuhnya menjadi hak dari masyarakat desa setempat. Kondisi serupa ini telah terlihat di 'Hutan Wakaf Jantho', yakni dengan hadirnya segerombolan lebah madu hutan yang berkualitas baik.

Malam kemarin (10.06.17), bersama beberapa kerabat, Akmal Senja, Bettina, Zulfadli Zulfadli, Azhar Aceh Indiephoto, dan Agus, konsep 'Hutan Wakaf' diperluas menjadi upaya diaspora. Maksud upaya ini adalah memberi kesempatan kepada donatur dari berbagai tempat untuk mewakafkan lahannya agar dihijaukan dan beralih kepemilikan menjadi milik alam.

Semoga gagasan 'Hutan Wakaf' ini terus berkembang dari aspek luasan dan dapat dijadikan model untuk membuktikan tingkat keberpihakan khalayak terhadap lingkungan.

photo | istimewa